SOLO - Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Dr Arif Zainudin Solo belakangan ini menerima pasien anak-anak yang mengalami kecanduan Gaget.
Meski tak membeberkan berapa jumlah pasti pasien anak-anak yang mengalami kecanduan Gaget, namun pihak RSJ melalui Humas RSJ Totok Herdiato menjeberkan dalam sehari, pihaknya menerima pasien anak kecanduan Gaget sebanyak 1 sampai 2 orang anak.
"Istilahnya hampir setiap hari ada saja pasien yang datang dengan keluhan tersebut," papar Totok saat ditemui Okezone belum lama ini.
Menurut Totok pasien awalnya datang ke RSJ dengan beragam keluhan. Dan kebanyakan yang datang tak mau menyebutkan karena kecanduan Games.
"Setelah observasi, baru bisa ditelusuri apa penyebab pastinya apa karena game atau sebab lainnya,"terangnya.
Sedangkan untuk penanganan anak yang rata-rata masih duduk di bangku Sekolah Dasar hingga SMP ini disesuaikan dengan gejala yang muncul karena tidak semua anak itu sama.
"Gangguan yang muncul kita atasi dulu misalkan, karena gangguan emosi atau gangguan apa kita atasi dulu. Salah satunya dengan pemberian obat Atau farmakoterapi selama dua minggu kemudian dengan ditambahi dengan terapi perilaku," jelasnya.
Pada minggu pertama, ungkap Totok, farmakoterapi anak akan terlihat lebih stabil. Saat itu bisa mulai dilakukan terapi perilaku. Umumnya, anak-anak tak mau mengakui jika itu kecanduan game.
Sehingga harus diberikan pemahaman agar mau mengakui apakah itu game atau bukan.
"Jadi dibutuhkan waktu sekitar 6 bulan agar anak tidak kecanduan game lagi. Yang artinya ya menyeluruh ya artinya holistik yang ditambani (diobati) hanya anaknya saja. Rata-rata pasien yang berobat jalan ataupun rawat inap," terangnya.
Sementara itu Kepala Instalansi Kesehatan Jiwa Anak Remaja, Rumah Sakit Jiwa Daerah (RSJD) Dr Arif Zainudin Solo, dr. Aliyah Himawati yang menangani pasien anak kecanduan Gaget mengatakan di era digitalisasi kemajuan teknologi begitu gampang diakses.
Tak hanya orang dewasa, kemajuan teknologi yang menawarkan beragam fasilitas ini pun bisa dengan mudah diakses oleh anak-anak.
Menurut Aliyah jika hal tersebut dibiarkan akan memperburuk kondisi kesehatan mereka baik fisik maupun mental.
Pasalnya, dengan kemudahan teknologi yang bisa diakses oleh anak-anak, terutama permainan, berimbas terhadap perilakunya.
Dimana anak-anak hanya fokus permainan yang bisa mereka dapatkan dengan mudah di handphone miliknya. Sehingga berpengaruh terhadap perilaku anak-anak.
Ini bisa dilihat dari gejala yang timbul. Dimana anak mulai malas belajar. Emosi tak stabil. Sehingga analisa sementara dari beberapa observasi yang dilakukan pada pasien yaitu kecanduan game.
"Kemajuan tekhnologi, bukan berarti anak harus dihindari sepenuhnya dari gadged, tapi diambil sisi positifnya. Peran orang tua memiliki peran penting untuk membantu si anak dengan memberikan batasan penggunaan," papar Aliyah.
Sejauh ini ungkap Aliyah, penangan yang dilakukan oleh tim medis bisa mengarahkan mereka untuk mengurangi ketergantungan penggunaan gadged juga game online.
Salah satu metode yang digunakan, pihaknya melakukan pendekatan dan observasi terkait kondisi yang terjadi pada si anak.
Tidak serta-merta mereka divonis kecanduan gadget karena perubahan perilaku pada mereka. Perlu dilakukan kajian terlebih dahulu kepada masing-masing anak.
"Biasanya kita interview, kita ajak bicara, komunikasi yang membuat mereka tenang dan itu dilakukan baik terhadap si anak maupun pada orang tuanya," lanjutnya.
Dari hasil komunikasi dan observasi itulah bisa diketahui sebab mereka mengalami perubahan perilaku.
Seandaianya mereka perlu dirawat, lanjut Aliyah, pasien anak tersebut akan mendapatkan metode perawatan dengan melakukan pendekatan untuk bisa mengontrol emosi dan bisa berkomuniaksi dengan pasien lebih intens.
"Setelah di rawat, selama beberapa waktu, pasien setiap bulannya dikenakan kontrol untuk mengetahui kondisi terbaru sang pasien," pungkasnya.
(Khafid Mardiyansyah)