JAKARTA – Politikus PDI Perjuangan (PDIP) Andreas Hugo Pareira mengatakan reaksi Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh atas sindiran Presiden Joko Widodo (Jokowi) terlalu emosional. Padahal, tidak ada satu pun parpol koalisi pemerintah yang menganggap pelukan Surya Paloh ke Presiden PKS Sohibul Iman bermakna ideologis.
“Reaksi SP (Surya Paloh) terhadap sindiran Presiden (Jokowi) pun menurut saya terlalu emosional, membawa diskursus seolah persoalan pelukan ini masuk dalam wilayah ideologis partai-partai pendukung Jokowi-Ma’ruf,” ucap Andreas dalam keterangan pers yang diterima Okezone, Minggu (10/11/2019).
Baca juga: Surya Paloh: Silaturahmi dan Rangkulan Dicurigai, Bangsa Model Apa Ini?
Andreas mengungkapkan, pihak yang pertama kali mengomentari pelukan Surya Paloh dan Sohibul adalah Jokowi dalam kapasitasnya sebagai Presiden.
Surya Paloh memeluk Sohibul Iman (PKS)
Jokowi, kata dia, berharap banyak kepada elite parpol pendukung usai pembentukan kabinet agar pemerintahan tetap solid. Jokowi berharap soliditas koalisi tetap terjaga kendati hubungan antarelite parpol dinamis.
“Tidak satu partai pun yang mengatakan rangkulan tersebut bermakna ideologis. Karena semua juga tahu dinamika antar elite partai saat ini lebih bersifat politik pertemanan, membangun pertemanan sebagai basis kesepahaman kerjasama politik” ucap Andreas.
“Sehingga menurut saya, tuduhan SP soal partai Pancasilais pun menjadi terlalu emosional dan sama sekali tidak bermakna ideologis.”
Presiden Jokowi saat memberi sambutan di perayaan HUT ke 55 Golkar di Hotel Sultan, Jakarta, Rabu 5 November 2019, menyindir Surya Paloh yang bertemu Sohibul Iman.
“Beliau lebih cerah dari biasanya sehabis pertemuan beliau dengan pak Sohibul Iman, Presiden PKS," kata Jokowi.
Dia juga menyindir Surya Paloh yang berangkulan mesra dengan Sohibul Iman.
Surya Paloh mengakui pernyataan Jokowi tersebut sebagai guyonan saja.
Tapi, di lain kesempatan Surya Paloh mengkritik elite yang mempermasalahkan pertemuannya dengan Sohibul Iman. Ia pun menyindir ada partai mengaku Pancasilais dan nasionalis, tapi dalam praktiknya berbeda.
Sikap saling sindir itu, dinilai beberapa kalangan sebagai indikasi mulai retaknya hubunga Nasdem dengan koalisi Jokowi.
(Salman Mardira)