"Saya tidak akan membuat janji-janji kosong kepada Anda. Perubahan adalah hal yang sulit dan penuh dengan ketidaknyamanan. Satu hal yang pasti, saya akan berjuang untuk kemerdekaan belajar di Indonesia".
Begitulah penggalan dari naskah pidato yang dibacakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim, pada upacara peringatan Hari Guru Nasional 2019 lalu.
Dalam pidato itu, Nadiem berkomitmen akan berusaha berjuang untuk 'kemerdekaan belajar' di Indonesia. Namun, berbicara 'kemerdekaan belajar', para siswa dari sejumlah daerah di pelosok negeri ini, nampaknya belum bisa merasakan kemewahan itu. Fasilitas yang ada di sekolah seperti halnya perpustakaan, hanya sekedar angan-angan dalam imajinasi mereka.
"Pak Nadiem, kami minta perpustakaan untuk SDN 3 Karangwuni," kata empat orang siswa secara serentak, ketika Okezone menghampiri mereka, Rabu (27/11/2019).
Pagi itu, sekira pukul 10.35 WIB, raut wajah para siswa nampak cukup lelah setelah mengikuti kegiatan pendidikan jasmani. Di antara mereka, ada salah seorang siswa yang sedang membuang air kecil di samping sudut sekolah. Memang, sepanjang mata memandang, tidak ada penampakan bangunan toilet yang diperuntukan untuk para siswa.
Sebelum mereka datang, suasana di SDN 3 Karangwuni, Kecamatan Sedong, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, terlihat sangat sepi. Hanya ada dua orang siswa kelas I yang berada di dalam kelas. Sisanya hanya ada tiga orang guru yang ada di ruangannya. SDN 3 Karangwuni merupakan sekolah terpencil yang terletak di perbatasan antara Kabupaten Cirebon dengan Kabupaten Kuningan. Siswa di sekolah ini hanya berjumlah 26 orang saja.
Mendapat predikat sebagai sekolah terpencil, tentunya segala keterbatasan dalam kegitan belajar mengajar sering dialami oleh para siswa di SDN 3 Karangwuni. Apalagi, di sekolah ini hanya memiliki dua guru honorer dan satu guru berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS). Sedangkan untuk jabatan Kepala Sekolah dirangkap oleh Kepala Sekolah lain dari SD di dekat SDN 3 Karangwuni.