Dinding yang retak-retak itu sempat diperbaiki, namun lagi-lagi retakan kembali terjadi. Pihak sekolah awalnya menduga, retakan itu merupakan buntut pengerjaan perbaikan dinding yang kurang bagus. Kecurigaan mulai terasa, saat pada bulan September 2019, retakan kian bertambah dan tagihan air pun meningkat berkali-kali lipat.
"Curiga setelah keretakan bertambah dan tagihan PDAM melonjak. Sebulan hampir mencapai Rp5 juta, itu di bulan September. Sebelumnya kan hanya ratusan ribu," jelasnya.
Mengatasi kecurigaan itu, lantas pihak sekolah meminta petugas PDAM melakukan pengecekan. Barulah kemudian diketahui, bahwa rupanya ada saluran pipa yang bocor hingga air mengucur deras tanpa henti. Sambungan pipa pun langsung diperbaiki.
"Tapi ternyata beberapa waktu kemudian, tagihan air tetap tinggi, walaupun agak menurun menjadi beberapa juta saja. Kita baru tahu, setelah ada petugas BPBD yang datang memeriksa. Ternyata pipa-pipa itu bocor karena pergeseran tanah," lanjutnya.
BPBD menganggap pergeseran tanah di area SKh Assalam 01 dalam tingkat siaga. Sehingga akhirnya berdasarkan kajian bersama Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), diputuskan bahwa semua kegiatan sekolah harus dipindah. Seluruh siswa langsung dievakuasi sejak akhir November 2019.
Kini, semua siswa SKh Assalam 01 belajar di tenda besar yang terpasang di halaman SKh Assalam 02. Yayasan Assalam memiliki 2 sekolah, jika Assalam 01 khusus untuk siswa tunarungu, maka assalam 02 diperuntukkan bagi siswa tunagrahita.
"Belajar mengajar di tenda ini. Di pasang sejak 2 Desember kemarin. Ini sampai Jumat (6 Desember) besok," ucap Indri.
Selama belajar di tenda, keprihatinan para guru dan siswa tak bisa disembunyikan. Selain panas, arus listrik pun sering terputus lantaran tak kuat menanggung daya. Bahkan beberapa wali murid, mengeluhkan pula jarak yang semakin jauh di tempuh para siswa berkebutuhan khusus itu.
"Kondisinya apa adanya seperti ini, panas, kasihan siswa pada kegerahan kalau belajar. Mereka terlihat enggak nyaman," ulasnya.