Sulitnya Sekolah di Perbatasan, Harus Bertaruh Nyawa Demi Bisa Belajar

Ade Putra, Jurnalis
Sabtu 07 Desember 2019 11:31 WIB
Sekolah Dasar Negeri (SDN) 8 di Dusun Manyam, Kalbar (foto: Okezone/Ade Putra)
Share :

SINTANG - Upaya pemenuhan pendidikan di tanah air boleh dibilang masih belum merata. Meski fasilitas pendidikan sudah dibangun dengan sebaik-baiknya, namun sarana pendukung masih ada yang belum terpenuhi.

Di Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat contohnya. Di sana, ada puluhan siswa-siswi sekolah dasar yang harus berjuang melewati rintangan demi mendapat pendidikan. Mereka yang tinggal di Dusun Manyam 2 dan 3, Desa Sungai Manyam ini harus menyeberangi Sungai Kapuas untuk mencapai sekolah terdekat. Yakni Sekolah Dasar Negeri (SDN) 8 di Dusun Manyam 1.

 

"Anak-anak ini menyeberangi sungai menggunakan sampan (perahu kayu). Kadang kondisi sungai tidak bersahabat. Ada angin kencang. Sampan yang ditumpangi anak-anak terkadang oleng. Yang berangkat menyeberang ini dari kelas 1 sampai 6," kisah Camat Kelam Permai, Maryadi kepada Okezone, Jumat (6/12/2019).

Orangtua mereka tentu khawatir akan keselamatan anak-anaknya. Karena, bukan tanpa risiko menyeberangi sungai terpanjang di Indonesia itu. Apalagi hanya menggunakan armada sampan.

Bagi orangtua yang khawatir akan keselamatan anaknya saat menyeberangi sungai, terpaksa mereka disekolahkan di kabupaten sebelah. Yakni di Kecamatan Silat, Kabupaten Kapuas Hulu. Data yang didapat, ada 23 anak-anak di Dusun Manyam 2 dan 3 yang bersekolah di Silat.

Kisah keterbatasan akses pendidikan ini sebenarnya sudah berlangsung lama. Namun, sejak dua tahun belakangan ini, setidaknya kekhawatiran orangtua sudah sedikit hilang. Pasalnya, ada satu ruang kelas (lokal) yang dibangun oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Sintang, untuk murid SDN 8 yang tinggal di Dusun Manyam 2 dan 3.

 

SDN 8 Kelas Jauh namanya. Sekolah yang difungsikan sejak 2017 ini tetap menginduk pada SDN 8 di Dusun Manyam 1. Meski hanya satu ruang untuk digunakan pelajar kelas 1 sampai 6, setidaknya orangtua sudah tidak lagi khawatir akan ancaman kepada anaknya saat menyeberangi sungai untuk sekolah. Apalagi ada inisiatif masyarakat untuk menyambung bangunan lokal dengan bahan seadanya. Karena merasa ruangan kurang.

"Berangkat dari keprihatinan dan kekhawatiran itu, maka orangtua siswa bersama masyarakat dan dusun serta perangkat setempat, sepakat membangun ruangan dengan swadaya. Itupun masih berupa atap dan rangka dari kayu bulat. Kemudian disambung dengan lokal yang sudah ada," tuturnya.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya