Iwang dulunya seorang buruh pabrik, tapi penyakit katarak mengambil penglihatannya. Sejak saat itu, Iwang tak lagi bisa mencari nafkah sebagaimana biasanya. Istrinya kemudian mengambil alih urusan nafkah. Naroh bekerja serabutan di sebuah konveksi rumahan, namun upah yang didapat tidak dapat memenuhi kebutuhan keluarga. Akhirnya, Iwang memberanikan diri untuk mengamen di Ibu Kota.
"Pernah katarak, terus gak ada biaya buat berobat. Gaji buruh kasar pas-pasan banget. Semenjak buta, saya gak bisa dapat kerjaan apa-apa" katanya.
Soal penghasilan, Iwang mengaku cukup untuk biaya sehari-hari dan menyekolahkan anaknya. penghasilannya saat ini sudah lebih baik dibanding saat istrinya hanya bekerja serabutan.
"Paling kecil 150, kalau lagi rame kadang bisa sampe 300 ribu. Biasanya di car free day yang rame" jelasnya lagi.
Iwang hanya berharap, anaknya tidak malu mempunyai orang tua tuna netra dan hanya menjadi pengamen, ia ingin anak-anaknya tumbuh lebih baik darinya. Mendapat pendidikan yang cukup, dan pekerjaan yang layak.
Tak hanya itu, dia juga berharap lapangan pekerjaan untuk disabilitas seperti dirinya diperbanyak. Menurutnya, disabilitas juga punya kelebihan masing-masing dan tidak boleh dipandang sebelah mata.
"Ya mudah-mudahan sih ada kerjaan buat orang-orang kayak saya ini. Kalau untuk orang buta mungkin susah kali ya, tapi ya semoga ada yang bisa kasih pekerjaan yang cocok buat orang kayak saya" tutupnya.
(Khafid Mardiyansyah)