Selain Raisa dan Rukoyah, Tummi memiliki dua anak lainya yakni Muhammad Syafiurohman (13) serta Siti Kuswati (11). Syaifurohman saat ini sedang menempuh pendidikan di sebuah pondok pesantren di Cirebon. Sementara Kuswati sebentar lagi akan masuk ke Sekolah Menengah Pertama (SMP)
"Kalau ditinggal di rumah kan kasian, yang anak laki-laki lagi mondok. Satunya yang perempuan mau masuk SMP" tambahnya.
Tubuh Tummi memang tidak begitu perkasa. Namun, ia masih sempat mengerjakan kewajibannya sebagai seorang ibu dan istri. Sebelum ia berangkat untuk memecahkan batu, mula-mula ia akan mengerjakan pekerjaan rumah seperti memasak, mencuci piring, serta lainnya. Tummi juga masih sempat mengantarkan anaknya pergi ke sekolah.
Dalam satu hari Tummi bisa memecahkan batu sebanyak lima rinjing (keranjang yang terbuat dari bambu), sembari mengasuh kedua anaknya. Satu rinjing biasa dihargai Rp2.500. Jika dihitung, menurut Tummi ia bisa mendapatkan uang sekitar Rp12.500. Tummi juga mengaku bisa memecahkan batu hingga 20 rinjing setiap minggunya.
"Ini (gubuk bambu) biasa dipakai buat istirahat sama salat. Saya paling banyak bisa memecahkan batu sampai 20 rinjing. Sehari bisa 5 rinjing. Satu rinjing dihargai Rp. 2.500," ujar Tummi.
Tetap Ikhlas Meski Bekerja Sebagai Pemecah Batu
Tidak setiap hari batu yang dipecahkan Tummi bisa terjual. Bahkan sudah dua bulan ini batu yang ia pecahkan menumpuk, karena tidak ada yang membelinya. Untuk mensiasati hal tersebut, Tummi bersama suaminya terkadang harus mengayak pasir. Tummi biasa diberi upah sebesar Rp. 50.000 untuk satu mobil truk yang membawa pasir.
Meski uang yang didapatnya dari mengayak pasir lebih besar dari harga batu, tidak setiap hari ada mobil truk datang membawa pasir. Penghasilannya tentu tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ia terkadang sering berhutang kepada pemilik warung ketika membeli kebutuhan pokok seperti beras, minyak, sayuran, dan lainnya.
Pegal dan letih yang dirasakan tubuhnya sudah menjadi resiko pekerjaannya. Tummi juga pernah mengalami lecet pada bagian tanggannya saat memecahkan batu. Menurut Tummi, dirinya tetap ikhlas mengumpulkan pundi-pundi rupiah dari pecahan batu dan pasir. Jika ia tidak bekerja, lalu siapa lagi yang akan membantu suaminya mencari uang.