Filipina Larang Senator AS Berkunjung, Ancam Perketat Visa untuk Warga Amerika

Rahman Asmardika, Jurnalis
Sabtu 28 Desember 2019 11:06 WIB
Foto: Reuters.
Share :

MANILA - Filipina telah melarang dua anggota parlemen Amerika Serikat (AS) untuk datang berkunjung dan akan memperkenalkan pembatasan masuk yang lebih ketat bagi warga AS jika Washington memberlakukan sanksi atas penahanan seorang pengkritik pemerintah. Hal itu disampaikan juru bicara Presiden Rodrigo Duterte pada Jumat.

Presiden Duterte akan memberlakukan persyaratan pada warga negara AS untuk mendapatkan visa ke negaranya jika pejabat Filipina yang terlibat dalam penahanan Senator Leila De Lima ditolak masuk ke AS, seperti yang diserukan oleh senator AS Richard Durbin dan Patrick Leahy.

BACA JUGA: Pengkritik Duterte Terima Uang Suap dari Bandar Narkoba

Langkah itu diambil Duterte setelah Kongres AS menyetujui anggaran 2020 yang berisi ketentuan yang diperkenalkan oleh para senator terhadap siapa pun yang terlibat dalam penahanan De Lima. Senator Filipina itu didakwa atas tuduhan pelanggaran narkoba pada awal 2017 setelah ia memimpin penyelidikan pembunuhan massal selama tindakan anti-narkoba Duterte yang dikenal keras.

"Kami tidak akan duduk diam jika mereka terus mengganggu proses kami sebagai negara berdaulat," kata Juru Bicara Kepresidenan Filipina Salvador Panelo dalam konferensi pers yang dilansir Reuters, Sabtu (28/12/2019).

Filipina memberikan bebas visa masuk hingga 30 hari kepada warga AS, 792.000 di antaranya berkunjung dalam sembilan bulan pertama tahun 2019. Jumlah itu hampir 13 persen dari kedatangan warga asing ke Filipina.

BACA JUGA: Duterte: Saya Tak Akan Pernah Izinkan AS Tempatkan Rudalnya di Filipina

Kedutaan Besar AS di Manila belum menanggapi permintaan komentar.

Panelo mengatakan pembatasan perjalanan atas penahanan De Lima adalah omong kosong karena dia tidak dipenjara secara salah tetapi ditahan sambil menunggu persidangan karena kejahatan.

"Kasus Senator De Lima bukan tentang persekusi tetapi penuntutan," katanya.

AS adalah sekutu pertahanan terbesar Filipina dan sumber utama pengaruh Barat di Asia Tenggara. Jutaan orang Filipina memiliki kerabat yang merupakan warga negara AS.

De Lima, seorang menteri kehakiman di pemerintahan terdahulu, pada Rabu menyatakan apa yang dia sebut sebagai ucapan terima kasih yang luar biasa kepada Kongres AS atas bantuannya.

Senator yang telah menerima banyak penghargaan dari kelompok hak asasi manusia itu merupakan pengkritik keras Duterte dan menyerukan penyelidikan internasional atas perangnya melawan narkoba yang telah menewaskan ribuan orang.

(Rachmat Fahzry)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya