Eksotika Stasiun Cirebon, Pusat Transportasi Tersibuk dengan Corak Gedung Eropa

Fathnur Rohman, Jurnalis
Sabtu 04 Januari 2020 11:01 WIB
Stasiun Cirebon (Foto: Okezone/Fathnur)
Share :

Bangunan Stasiun Cirebon sendiri dirancang oleh seorang arsitek berkebangsaan Belanda yakni Pieter Adriaan Jacoobus Moojen. Ia mengusung konsep arsitektur bergaya indis. Pieter Adriaan Jacoobus Moojen menggabungkan gaya arsitektur di Eropa dengan adaptasi terhadap cuaca dan iklim di Indonesia.

Corak dan gaya arsitektur Eropa bisa dilihat dari penggunaan gavel dan non acrateric (hiasan puncak atap), penggunaan arc (bentuk lengkung), penggunaan vault, dan penggunaan dentils sebagai ornamen dinding eksterior. Sedangkan, untuk gaya arsitektur yang mengadaptasi kondisi cuaca dan iklim di Indonesia bisa dilihat dari penggunaan atap perisai dengan kombinasi pelana atap teritis. Selain itu terdapat juga banyak ventilasi dan jendela untuk mengatur penghawaan di Stasiun Cirebon.

Stasiun Cirebon memiliki denah simetris, yakni menghadap ke jalan utama Cirebon yaitu Jalan Siliwangi. Sebagai pintu masuk, bagian tengah Stasiun Cirebon dibuat lebih tinggi dari bagian bangunan sayapnya. Awalnya di menara selatan Stasiun Cirebon terdapat tulisan 'KAARTJES' (karcis), sementara di menara utara terdapat tulisan 'BAGAGE' (bagasi). Penempatan tulisan itu sebagai penanda pemisah antara pemisahan loket penumpang dan loket barang.

Di jelaskan dalam situs heritage.kai.id pada zaman kolonial, sebelum adanya kesempakatan dengan perusahaan kereta api swasta Semarang Cheribon Stoomtram Maatschappij (SCS) di Stasiun Cirebon Prujakan pada tanggal 1 November tahun 1914. Stasiun Cirebon tidak melayani keberangkatan dari Semarang-Surabaya karena jalurnya tidak tersambung.

Setelah ada kesepakatan akhirnya rel kereta dari Stasiun Cirebon ke Stasiun Cirebon Prujakan terhubung. Namun kesepakatan tersebut hanya untuk kepentingan transit penumpang.

Di kesepakatan itu, kereta api SS termasuk kereta api malam 'Java Nacht Express' rute Batavia-Surabaya harus berbelok ke arah jurusan Kroya. Sementara penumpang yang akan berangkat ke Semarang (lurus) wajib mengganti kereta api yang dilayani oleh SCS di Stasiun Cirebon.

Pada masa Revolusi Kemerdekaan tahun 1945-1949, Stasiun Cirebon selalu menjadi tempat transit untuk semua jenis Kereta Luar Biasa (KLB). Salah satunya adalah saat Presiden Soekarno yang hendak memberikan pidato di depan masyarakat.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya