Penumpang lainnya, Dewi mengatakan akses stasiun dari rumahnya dirasa cukup dekat sehingga ia memilih untuk naik kereta api dari stasiun yang menjadi bangunan cagar budaya Kota Malang ini.
“Kalau dari sini kan dekat kebetulan rumah saya di Mergosono. Dekat kalau ke sini, kalau naik kereta api jarak jauh juga dari sini,” paparnya.
Dirinya menyatakan bangunan, pelayanan, dan fasilitasnya di Stasiun Malang Kota Lama cukup bagus dan memuaskan. “Saya rasa terus menerus tambah baik fasilitasnya, toiletnya bersih, ruang tunggunya juga luas, pelayanannya juga secara keseluruhan bagus,” tambahnya.
Namun meski menjadi alternatif kedua bagi para penumpang kereta api, pihak KAI memastikan tak ada perbedaan pelayanan dan fasilitas antara Stasiun Malang Kota Baru dan Stasiun Malang Kota Lama.
“Kalau pelayanan dan fasilitas dengan Kota Baru (Stasiun Malang Kota Baru) sama, tidak ada perbedaan. Pengamanannya pun sama saat nataru ini,” ungkap Hernawan.
Meski demikian diakui pria asal Kuningan perbedaan signifikan diakui pada waktu berhenti kereta api. Jika di Stasiun Malang Kota Baru kereta api saat berhenti bisa lebih dari lima menit, di Stasiun Malang Kota Lama waktu berhenti maksimal hanya lima menit.
“Kalau di Stasiun Malang Kota Baru bisa berhenti lama, kalau di sini (Stasiun Malang Kota Lama) rata – rata normalnya tiga menit, paling lama lima menit,” lanjutnya.
Hernawan menambahkan untuk melayani para penumpang Stasiun Malang Kota Lama empat jalur efektif dan tiga jalur langsir. Masing – masing jalur efektif memiliki panjang bervariasi pada jalur satu misalnya panjangnya mencapai 340 meter, pada dua panjang 200 meter, jalur tiga dengan panjang 180 meter, serta jalur empat dengan panjang 116 meter.
“Parkiran sepeda motor kita luas bisa muat 100 motor, kalau mobil saya kira sekitar 50 mobil muatlah,” tukasnya.
(Khafid Mardiyansyah)