PSBB Longgar, Moda Transportasi Kembali Sesak

Tim Okezone, Jurnalis
Jum'at 15 Mei 2020 17:17 WIB
Penumpang KRL (Okezone.com/Evi Yulianti)
Share :

SUDAH hampir dua pekan Rachmat (35) kembali masuk kantor di Jakarta Pusat, setelah sebelan perusahaan menerapkan kerja dari rumah atau work from home (WFH) karena pandemi Covid-19. Tiap pagi pada hari kerja, dia berangkat menumpang KRL Commuterline dari Stasiun Tambun menuju Ibu Kota.

Rachmat tentu saja khawatir akan tertular virus corona mengingat KRL selalu ramai terutama saat pagi dan petang. “Tapi, mau gimana lagi, harus masuk kerja,” kata Rachmat kepada Okezone, Jumat (15/5/2020).

Rachmat tak ada pilihan karena kantornya mewajibkan lagi karyawan absen jari. Sebagai karyawan biasa dia harus patuh. Jika menolak, maka risiko dipecat.

Baca juga: Penumpang Menumpuk di Bandara Soetta, DPR: Jangan Abaikan Keselamatan!

Evi juga sama. Sejak perusahaannya mewajibkan masuk kantor dalam dua pekan terakhir, warga Kota Depok itu hampir saban hari menumpangi KRL.

“Saya bekerja di Jakarta Pusat dan rumah di Depok, angkutan yang paling terjangkau hanya KRL. Kalau pun ada taksi harganya tidak terjangkau,” katanya.

KRL masih ramai karena banyak perusahaan tetap beroperasi di Jakarta meski masih Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Pada jam-jam sibuk saat orang-orang berangkat atau pulang kerja, KRL kerap penuh. Physcal distancing tak berjalan.

Evi bersaksi saat naik KRL pagi dan sore. “Kalau pagi jam kerja antara jam 6-8 masih terbilang cukup rapat. Sore juga masih padat biasa pukul 16.30-17.00 WIB,” katanya.

Saat pagi, penumpang menumpuk di stasiun. Antrean panjang pengguna KRL mengular karena harus melewati cek suhu tubuh untuk masuk ke gerbong.

Khafid merasakan saat naik KRL di Stasiun Bojonggede, Bogor, Senin 12 Mei pagi. Menurutnya penumpang tertahan di pintu masuk karena harus menunggu satu-satu lewat cek suhu tubuh.

Penumpang KRL selama pandemi Covid-19 memang anjlok dari biasanya 1 juta tiap hari, sekarang jadi di bawah 200 ribu penumpang.

Kepala Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) Polana B. Pramesti mengatakan, belakangan ini beberapa kali terjadi masyarakat memaksakan diri untuk menumpang KRL meski kapasitas sudah melebihi batas ketentuan sesuai PSBB. Kondisi tersebut cenderung terjadi pada Senin pagi dan Jumat sore dimana jumlah penumpang terlihat menumpuk hanya pada jam-jam tertentu khususnya menjelang buka puasa.

Manager External Relations PT KCI, Adli Hakim mengatakan, pihaknya mengantisipasi penumpukan penumpang dengan menyiapkan bus alternatif.

“Kami dengan Kemenhub menyiapkan bis di beberapa stasiun yang biasanya padat penumpang bukan berarti numpuk. Kita berharap dengan adanya bantuan bis ini psycal distancing di stasiun bisa lebih baik,” katanya.

Baca juga: Penumpang KRL Menumpuk di Stasiun Bojonggede

Bus dibatasi 50 persen dari kapasitas atau hanya 25 orang. Layanan bus disediakan Jumat ini dan Senin 18 Mei.

Adapun untuk titik dan jadwal keberangkatan bus tersebut adalah sebagai berikut:

1. Jumat 15 Mei 2020 (jam keberangkatan 16:00 - 16:30 WIB)

a. Rute Jakarta - Bogor

1) Stasiun Dukuh Atas Sudirman -Terminal Baranangsiang Bogor (2 unit bus).

2) Stasiun Manggarai-Terminal Baranangsiang Bogor ( 2 unit bus).

3) Stasiun Tebet-Terminal Baranangsiang Bogor (2 unit bus) .

b. Rute Jakarta–Bekasi

1) Stasiun Dukuh Atas Sudirman–Terminal Bekasi (2 unit bus)

2) Stasiun Manggarai–Terminal Bekasi (2 unit bus)

2. Senin 18 Mei 2020 (jam keberangkatan 05.00–06.00 WIB)

Rute hanya Bogor–Jakarta dengan titik keberangkatan dari Stasiun Bogor menuju Stasiun Dukuh Atas Sudirman Jakarta dengan jumlah armada 5 unit bus.

MRT

Pandemi Covid-19 ikut menurunkan penumpang MRT Jakarta. Moda transportasi cepat bawah tanah ini memang tak seramai KRL. Penggunanya saat normal rata-rata Rp100.000 jiwa per hari.

“Sekarang setelah PSBB sampai Rp4.000 saja dan turun sekitar 96% kalaupun ada di jam-jam padat dan itupun masih jauh dari maksimal kapasitas kami jadi untuk maksimal 60 orang per kereta, kami masih jauh lebih cukup untuk menghadapi jam ramai di saat relaksasi PSBB,” kata Corporate Secretary Division Head MRT Jakarta, Muhammad Kamaluddin.

Untuk mengantisipasi penumpukan penumpang penumpang di stasiun, pihak MRT melakukan pemantauan berlapis sesuai SOP. Kalau sudah padat di kereta, penumpang akan disetop di peron. Kalau penuh di peron maka disetop di gate pembayaran. Jika di sana penuh maka penumpang dihentikan di tangga.

Di Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, Tangerang, Kamis 14 Mei, penumpang berjibun untuk naik pesawat. Saking ramainya, prosedur jaga jarak yang diterapkan sama-sekali tak berjalan. Mereka antre berdesakan untuk sampai di meja pemeriksaan berkas syarat bepergian di tengah pandemi corona.

Wakil Ketua Komisi V DPR RI, Syarif Abdullah Alkadrie mengatakan, penumpukan penumpang di stasiun, terminal bahkan bandara terjadi karena pemerintah tidak konsisten menjalankan PSBB bahkan terlalu longgar.

“Pemerintah tidak terlalu konsisten, artinya belum apa-apa sudah bicara relaksasi, tapi kemudian antarmenteri tidak sinkron, nah seharusnya pemandu tugas itu ada di Gugus Tugas Percepatan Corona, mau relaksasi atau pun semuanya muncul dari sana, tapi ini malahan dari bidang lain yang selalu berbicara seperti ini,” katanya.

Menurut dia, harusnya pemerintah mementingkan keselamatan masyarakat dari corona. “Virus ini akan terjadi jika ada interaksi fisik antara orang dengan orang dan itulah yang harus dijaga oleh pemerintah supaya tidak terjadi.”

Reporter: Fakhrizal Fakhri, Harits Tryan Akhmad 

(Salman Mardira)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya