Ia melanjutkan, bahwa informasi komoditas yang terintegrasi dan akurat di setiap mata rantai logistik bermanfaat untuk setiap pemangku kepentingan. Untuk Kementerian Perhubungan berguna dalam mengurangi potensi insiden dalam transportasi. Lalu Kementerian Perdagangan bisa memanfaatkan single manifest komoditas untuk dijadikan pertimbangan strategi dalam meningkatkan daya beli dan arus dagang. Kemudian dapat meningkatkan akurasi pendataan Badan Pusat Statistik, karena meningkatkan visibilitas arus dagang, terutama arus komoditas antarpulau. “Untuk pemilik barang dan forwarder/agen logistik dapat mengurangi risiko kerugian akibat kesalahan handling (penanganan) komoditas. Untuk perusahaan pelayaran dapat mengurangi risiko saat proses stevedoring (bongkar muat) dan pengangkutan di atas kapal. Sedangkan untuk operator terminal seperti Pelindo III bermanfaat untuk perencanaan arus barang di pelabuhan agar lebih efisien, sehingga meningkatkan pelayanan, menghemat waktu dan biaya,” papar Putut Sri Muljanto.
Kesiapan Sistem Pelindo III
BUMN Pelindo III telah menjalankan sistem digital yang dikembangkannya, yakni Integrated Billing System (IBS) untuk digunakan dalam proses integrasi data single manifest kargo. IBS Pelindo III telah terintegrasi dengan sistem Inaportnet milik Kemenhub dan INSW milik Kemenkeu. Kemudian juga telah ada Nota Kesepahaman antara Kemendag dengan Pelindo 1, IPC, Pelindo III, dan Pelindo 4, terkait integrasi data bongkar muat di pelabuhan dengan SIPAP milik Kemendag. “Integrasi IBS dengan SIPAP sudah mulai berjalan untuk komoditas non-peti kemas. Tahun 2020 ini saatnya bersama-sama mengintegrasikan untuk komoditas peti kemas domestik. Bila semua pihak disiplin melaporkan manifest isi kargo peti kemasnya, maka Kemendag tinggal tarik data dari Aplikasi Spinner dalam IBS untuk SIPAP,” ungkap Putut Sri Muljanto lagi.
IBS Pelindo III siap diujicobakan oleh regulator dan pelaku bisnis logistik, untuk menjadi fasilitator master data komoditas dari integrasi manifest kargo nasional. Terkait cakupannya, Putut Sri Muljanto mengusulkan untuk diujicobakan mencatat komoditas pada rute pelayaran Tanjung Perak Surabaya dari dan ke Banjarmasin atau Sampit. “Sehingga kita bersama bisa mendapatkan data komoditas apa saja yang diangkut antara dua pelabuhan besar di Jawa dan Kalimantan tersebut. Berbekal data tersebut, kementerian dan lembaga Pemerintah, serta pelaku bisnis bisa mengembangkan analisa dan perencanaan logistik yang lebih efektif dan efisien demi menekan biaya logistik nasional, dan yang terpenting yaitu prototype sistem logistik nasional yang berbasis data yang akurat, Negara kita akan segera memilikinya,” pungkas Putut Sri Muljanto optimis.
CM
(Yaomi Suhayatmi)