Oleh karena itu, Suwandi menekankan petani harus masuk kelas yakni bergabung menjadi korporasi. Sebab, masalah turunnya produksi singkong ditengarai karena pasar kurang menarik dan adanya kompetisi dengan produk lain yang harganya lebih tinggi ataupun umur lebih pendek seperti contohnya jagung. Adapun beberapa varietas ubi kayu unggul lainnya yang perlu dikembangkan petani seperti varietas gajah, cimanggu super, manggu, mukibat dan varietas lainnya.
“Semua bersama bangun singkong Indonesia jadi pangan lokal yang bisa didorong dalam bentuk korporasi. Terdapat potensi lahan 31 ribu hektar di Bangka Belitung untuk dikembangkan ubi kayu," tegas Suwandi.
Lebih lanjut Suwandi menjelaskan untuk memajukan dan mensejahterakan petani ubi kayu perlu penanganan model korporasi karena di korporasi terintegrasi jadi satu inputnya. Dengan korporasi yang memanfaatkan mekanisasi dan bekerjasama menjadi off taker industri maka petani akan mendapat kemudahan sumber pendanaan untuk KUR.
Yang menjadi kunci selanjutnya, sambungnya, adalah teknologi pengolahan. Ada sekitar 28 produk turunan yang bisa dimanfaatkan untuk dikembangkan ke pasar maupun supermarket dengan branding yang bagus.
“Makanan lokal kuncinya ada di hilir market driven, bagaimana mencreate pasar supaya pangan lokal jadi lifestyle. Bangun market drivennya, pasar dibangun, baru produksi mengikuti. Kalau pasar bagus petani akan mengikuti berproduksi,” tandas Suwandi CM
(Yaomi Suhayatmi)