JAKARTA – Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 menyadari bahwa perlu dilakukan perubahan besar untuk menangani pandemi yang korbannya terus meningkat. Untuk itu, Satgas bergerak dari hulu masalah dengan mengubah perilaku masyarakat, dan ada sejumlah target yang akan dilakukan Satgas dalam penanggulangan Covid-19.
“Update penanganan Covid-19, saat ini Satgas Penanganan Covid-19 sudah mempunyai satuan rencana kerja yang membawahi 5 bidang, pertama bidang data dan teknologi informasi, bidang komunikasi publik, bidang perubahan perilaku, bidang penanganan kesehatan dan relawan,” kata Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Doni Monardo dalam Rapat Kerja (Raker) dengan Komisi VIII DPR di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Kamis (3/9/2020).
Baca Juga: Wakil Jubir Covid-19 Kabupaten Bekasi Positif Covid-19
Doni memaparkan, target besar Satgas Penanganan Covid-19 yaitu, melindungi kelompok rentan; menekan kasus positif; peningkatan testing, tracing dan treatment; vaksinasi; pengadaan reagen, PCR dan alat pelindung diri (APD); sosialisasi masif; perubahan perilaku; dan interoperabilitas data.
“Pada awal Gugus Tugas kami cenderung penugasan pemenuhan kebutuhan pelayanan untuk kesehatan, APD, ventilator bersama Kemenkes, pemenuhan reagen, PCR mesin dan berbagai macam kelengkapan untuk rumah sakit,” terangnya.
Namun, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) ini melanjutkan, setelah melihat perkembangan, perlu ada strategi baru dalam penanganan Covid ini. Karena, setelah memperhatikan sejumlah negara dengan sistem kesehatan lebih baik, namun korban jiwa tetap banyak yang berjatuhan. Misalnya, Amerika Serikat (AS), korban jiwanya telah mencapai sangat besar dan korban yang terpapar Covid sangat tinggi.
“Termasuk di negara kita korban jiwa sudah mendekati angka 7.800 orang dan lebih dari 100 orang dokter kita sudah wafat. Tadi malam kami memfasilitasi doa bersama dengan seluruh organisasi kedokteran dan juga dengan pimpinan (Komisi VIII DPR), tokoh-tokoh lintas agama, termasuk juga tokoh-tokoh masyarakat,” ujar Doni.
Karena itu, menurut Doni, strateginya tidak boleh berpacu pada penanganan kesehatan, tapi bergerak di hulunya yaitu dalam program perubahan perilaku. Apabila ini bisa dilakukan dengan baik, dia yakin bahwa masyarakat akan semakin patuh terhadap protokol kesehatan dan risiko terpapar semakin kecil. Sehingga, beban RS tidak terlalu berat dan memberikan ruang ke dokter untuk relaksasi.
“Dokter tidak kelelahan, dokter tidak kehabisan tenaga dan waktu, cara kita melindungi dokter,” ucapnya.
Baca Juga: Karyawan Pabrik Sparepart di Bekasi yang Positif Covid-19 Tembus 220 Orang
Kemudian, sambung dia, perlindungan kelompok rentan dengan melakukan upaya preventif. Untuk tenaga kesehatan (nakes) pihaknya sudah menggunakan dana siap pakai sebesar Rp83 miliar untuk pemenuhan gizi dan vitamin, angka itu untuk tahap pertama.
“Sehingga, dokter mendapatkan asupan gizi tambahan,” imbuh Doni.
(Arief Setyadi )