Ditolak Sejumlah Fraksi DPRD, Pelaksanaan APBD DKI Dianggap Tak Transparan

Bima Setiyadi, Jurnalis
Senin 07 September 2020 15:59 WIB
Ilustrasi sidang paripurna DPRD DKI Jakarta (Foto: Okezone)
Share :

JAKARTA - Rapat paripurna tentang pengesahan Peraturan Daerah (Perda) pertanggungjawaban Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (P2APBD) Tahun Anggaran 2019 digelar di Gedung Paripurna DPRD DKI Jakarta. Sejumlah fraksi menolak P2APBD karena tidak ada transparansi dan tidak adanya aspirasi rakyat yang diakomodir.

Sejumlah fraksi DPRD DKI Jakarta yang menolak yaitu Fraksi PSI, Fraksi Partai Golkar, Fraksi Nasdem dan Fraksi PAN. Baca Juga:  Fraksi PAN hingga Golkar Tolak Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD DKI Jakarta 

Sekretaris Fraksi PAN DPRD DKI Jakarta, Oman Rakinda mengatakan, Fraksi PAN tegas menolak dengan 2 alasan kritis. Pertama, karena tidak ada tampilan data yang jelas terkait penggunaan anggaran. Dengan angka Silpa Rp1,203 triliun, Fraksi butuh detail pengeluaran anggaran di 2019.

"Apa yang sudah dilakukan oleh eksekutif tidak menjalankan perintah dari aturan yang berlaku. DKI jalan dengan uang rakyat, dari dan untuk rakyat. Harusnya eksekutif beri laporan sesuai dengan azas pengelolaan keuangan daerah, termaktub di Pasal 4 PP 58 Tahun 2005, yakni transparan, apalagi ke kami dewan, yang merupakan representasi rakyat," kata Oman di Gedung Paripurna DPRD DKI Jakarta, Senin (7/9/2020).

Oman menjelaskan, pengesahan Raperda P2APBD dimaksudkan agar dewan dapat segera membahas APBD perubahan. Sebelum melangkah jauh ke sana, Fraksi PAN mengingatkan bahwa sejauh ini, hasil resap aspirasi warga melalui reses dewan tidak diakomodir.

Baca Juga: Lusa, DKI Akan Umumkan Hasil Kajian Sepeda Masuk Tol

Selain masalah transparansi, lanjut Oman, alasan kedua yang membuat frkasi harus menolak yakni, karena masih banyak aspirasi dewan yang belum didengarkan. Sebagai wakil rakyat, anggota DPRD menyerap banyak aspirasi lewat reses sebagai salah satu satu cara mengajukan suara rakyat.

“Kita bisa lihat data, masih banyak kampung kumuh. Ada 136 kampung kumuh di Ibu Kota yang belum disentuh pemerintah. Aspirasi rakyat di kampung ini yang harus jadi prioritas, tapi sayang tidak diakomodir juga," pungkasnya.

Politisi PAN ini juga mengingatkan saudara Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan untuk bisa mendengarkan aspirasi dari Dewan yang merupakan mitra kerjanya. “Tidak bosan saya mengingatkan saudara Gubernur, bahwa ada kami legislatif yang menampung suara rakyat. Oleh karena itu, Pemprov jangan kerja sendiri. Pemprov harus bekerja sesuai keinginan rakyat juga, karena tugas kita mensejahterakan mereka, itu amanah," pungkasnya.

(Arief Setyadi )

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya