Takdir mengharapkan dengan adanya penguatan kelembagaan kelompok tani penangkar kegiatan korporasi di Sulawesi Utara, maka dapat memacu kegiatan ekspor lebih tinggi lagi, yaitu bukan hanya ekspor untuk konsumsi, tetapi juga dalam bentuk benih.
“Sampai saat ini, Timor Leste dan Filipina adalah negara yang kebutuhan jagung hibridanya dipenuhi dari Tuban dan Sulawesi Utara,” ujarnya.
Kepala Balai Penelitian Tanaman Serealia, Muhammad Azrai menambahkan bahwa provinsi pertama yang sudah ekspor benih jagung hibrida adalah Sulawesi Utara. Selain itu, produktivitas jagung hibrida di Sulawesi Utara juga menempati urutan kedua setelah Jawa Timur.
“Untuk kegiatan korporasi, potensi di Provinsi Sulawesi Utara cukup besar, yaitu dengan total luasan 480 ha yang terdiri dari Kabupaten Minahasa seluas 150 ha, Minahasa Selatan 60 ha, Minahasa Tenggara 20 ha, Minahasa Utara 50 ha, Kota Tomohon 53 ha, Kota Manado 47 ha, serta Bolaang Mongondow 100 ha. Sehingga diharapkan Provinsi Sulawesi Utara menjadi salah satu sentra perbenihan di Indonesia Timur,” terangnya.
Petani penangkar pada Kelompok Tani Suka Maju, Meidy Maikel Lumentut, mengatakan bahwa sangat bersyukur dengan adanya bantuan kegiatan korporasi dari Kementan.
“Hasil rata-rata yang diperoleh untuk panen saat ini adalah 6,8 ton/ha, dan yang menjadi benih setelah melewati berbagi prosesing sekitar 2,5 ton/ha. Kami kelompok tani merasa terbantu dengan bantuan ini, secara tidak langsung kami juga dapat membuka lapangan pekerjaan bagi petani dalam proses pengolahan, tanam, sampai panen, sehingga dapat meningkatkan perekonomian di tingkat petani karena hasil glondongan kering sawah (GKS) langsung diopkup oleh lisensor yang bekerja sama, dalam hal ini PT TWINN,” ujar Meidy.