Tak Tunggu Pengumuman Resmi, Tim Transisi Biden Sudah Mulai Bekerja

Agregasi VOA, Jurnalis
Minggu 08 November 2020 10:27 WIB
Presiden Terpilih Amerika Serikat Joe Biden. (Foto: Reuters)
Share :

WILMINGTON - Tim transisi Joe Biden telah mulai bekerja meski hasil pemilihan presiden Amerika Serikat (AS) belum secara resmi diumumkan. Sebelum Biden diproyeksikan sebagai pemenang, Sabtu (7/11/2020), pembantunya sejak lama Ted Kaufman telah memimpin upaya untuk memastikan agar mantan wakil presiden itu bisa mulai menyusun pemerintahan apabila menang.

Kaufman adalah seorang mantan senator dari Delaware yang ditunjuk untuk mengisi jabatan yang kosong ketika Biden terpilih sebagai wapres.

BACA JUGA: Perjalanan Panjang Joe Biden Menuju Gedung Putih

Kaufman juga pernah bergabung dalam tim transisi Barack Obama pada 2008, dan membantu menyusun legislasi yang memformalisasi proses transisi presiden.

Biden pertama kali meminta Kaufman untuk mulai mengerjakan upaya transisi pada April, tak lama setelah mantan wapres itu meraih nominasi presiden usai pemilihan pendahuluan Partai Demokrat.

Tim kampanye Biden telah menolak untuk berkomentar soal proses transisi.

Para penasihat terdekat Biden mengatakan prioritas utamanya adalah mengumumkan kepala staf Gedung Putih, kemudian menyusun hal-hal yang dibutuhkan guna mengatasi virus corona.

BACA JUGA: Pidato Kemenangan, Biden Janji Jadi Presiden yang Mempersatukan Warga AS

Seorang presiden boleh menunjuk 4.000 pejabat, dan lebih dari 1.200 di antaranya harus dikonfirmasi oleh Senat. Hal itu bisa jadi tantangan bagi Biden, karena Senat mungkin akan tetap didominasi oleh Republik.

Proses transisi akan dimulai secara resmi setelah Administrasi Layanan Umum (General Services Administration/GSA) memastikan pemenangnya berdasarkan semua fakta yang tersedia. Panduan yang cukup samar, sehingga Trump bisa saja menekan direktur GSA untuk menunda-nunda prosesnya.

Juga belum jelas apakah presiden akan bertemu secara langsung dengan Biden. Obama bertemu dengan Trump kurang dari seminggu setelah pemilu 2016, tapi ketika itu tak ada sengketa soal perolehan suara dengan Hillary Clinton. Clinton meraih suara populer lebih banyak, tapi dikalahkan oleh Trump karena meraih suara elektoral lebih tinggi.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya