SUATU hari, Gus Dur dan asisten pribadinya Zastrouw sampai di suatu daerah di lereng gunung Dieng, Banjarnegara, Jawa Tengah.
Mereka mencari cari sebuah makam tua. Suasana sepi senyap karena telah malam, lokasinya di tempat terpencil.
Tiba-tiba muncul orang tua yang berjalan, berpakaian petani, memakai peci hitam. Ia menanyakan yang mereka cari.
Gus Dur menceritakan sedang mencari makam seorang ulama. Orang tua tadi mengaku mengetahui letak makam. Mereka lalu mengikuti langkah orang tua tadi menyusuri persawahan dan mendaki lereng.
Baca Juga: Makam Gus Dur Tetap Ditutup Bagi Peziarah, Ada Apa?
Setelah berjalan sekitar setengah jam, tiba di sebuah kuburan yang terletak di bawah pohon. Kuburan itu sudah tidak ada bekasnya, bahkan tidak nampak gundukan tanahnya.
Gus Dur mengatakan bahwa makam itu yang mereka cari. Letaknya jauh dari pemukiman penduduk di lereng pegunungan Dieng. Orang tua itu pamit untuk meneruskan perjalanan.
”Baru beberapa menit orang berpamitan, dia sudah hilang di kegelapan malam. Padahal kalau jalan kaki seharusnya masih terlihat bayangan tubuhnya”, kata Zastrouw saat diwawancara.
Baca Juga: Haul Gus Dur, Budiman Sudjatmiko: Berpikir Terlalu Maju
Zastrouw bertanya pada Gus Dur. ”Gus, orang tua tadi siapa, berjalan sebentar lalu lenyap.”
Gus Dur menjawab, ”Orang tua tadi ya ulama yang kuburannya disini.”
Mendengar jawaban Gus Dur tersebut, Zastrouw cuma bisa diam, menganggukkan kepala.
(Khafid Mardiyansyah)