Cerita 2 Putri Penguasa Dubai yang Disekap Ayahnya, Putri Latifa: Inggris Harus Usut Penculikan Kaka Saya

Agregasi BBC Indonesia, Jurnalis
Minggu 28 Februari 2021 10:12 WIB
Putri Latifa anak penguaa Dubai.(Foto:BBC)
Share :

Pengkajian berikutnya dilakukan setelah muncul putusan dari Pengadilan Tinggi Inggris pada 2020. Dalam pernyataan kepada BBC News, Kepolisian Cambridgeshire mengaku telah menerima surat dari Latifa, yang "akan dilihat sebagai bagian dari pengkajian yang sedang berlangsung."

"Ini masalah yang sangat kompleks dan serius, karena itu terdapat rincian kasus yang tidak pantas untuk dibahas secara terbuka," demikian pernyataan kepolisian.

Kementerian Luar Negeri Inggris menyatakan kepada BBC bahwa ini adalah masalah pribadi antara dua individu dan Kemenlu tidak berperan apapun dalam penyelidikan oleh Kepolisian Cambridgeshire atau atas apapun yang dihasilkan. Mereka juga menolak untuk berkomentar atas kontak dari perwakilan Sheikh mengenai kasus tersebut.

 Setelah munculnya tayangan Putri Latifa, Menteri Luar Negeri Inggris, Dominic Raab, mengatakan bahwa tayangan tersebut "sangat meresahkan" dan Inggris akan "menaruh perhatian dengan sangat cermat atas perkembangan hal itu."

Satu-satunya pernyataan syekh terkait kasus itu adalah ketika di Pengadilan Tinggi. Saat itu ia mengatakan "lega" menemukan putrinya Shamsa "yang rentan" setelah hilang.

Cerita Shamsa terulang dengan Latifa, 18 tahun kemudian dan memegang peranan penting dalam keputusannya untuk berupaya hidup baru di luar negeri. Langkahnya untuk melarikan diri gagal dan dia dibawa lagi ke Dubai dari kapal di Samudra Hindia.

Dari video yang diunggah di YouTube sebelum ia melarikan diri pada 2018, Latifa menggambarkan apa yang terjadi pada kakaknya dan konsekuensi beratnya.

BBC News juga telah berbicara kepada seseorang yang melakukan kontak rutin dengan Shamsa di Dubai. "Anda tak perlu jadi dokter untuk mengetahui bahwa ia dibius setiap saat."

Tak banyak foto Putri Shamsa yang sempat dibesarkan di Inggris. "Shamsa bukanlah seseorang yang bisa kamu panggil "Putri"," menurut sepupunya Marcus Essabri, yang tinggal bersama keluarga itu di Dubai selama dua tahun dan dekat dengannya.

"Ia usil, orang yang bersemangat dengan jiwa petualangan," tambahnya. "Ia ingin berbuat sesuatu untuk perempuan, khususnya di dunia Arab. Ia ingin mendobrak aturan ketat...Di sinilah masalah bermula," kata Essabri.

Shamsa menulis kepada Essabri dari London pada September 1999, sembilan bulan sebelum ia melarikan diri.

Ayahnya, saat itu sebagai Putra Mahkota Dubai, tidak mengizinkannya melanjutkan studi ke universitas. "Saya tak diizinkan melanjutkan. Ia (ayah) bahkan tak tanya saya tertarik apa. Ia hanya bilang tidak," tukasnya.

Ia bercerita kepada sepupunya bahwa ia merencanakan melarikan diri. "Satu hal yang membuat saya takut adalah membayangkan diri sendiri tua dan menyesal bahwa saya tak pernah mencoba saat saya usia 18 tahun. Mencoba apa? Saya tak tahu. Hanya mencoba peluang."

Sekitar pertengahan 2000, ia mengambil peluang itu. Ia mengendarai Range Rover hitam ke ujung kediaman luas syekh bernilai £75juta di Longcross, Surrey dan lari. Syekh mengerahkan tim agen untuk diam-diam melacaknya.

Pada 19 Agustus 2000, seorang pria menarik Shamsa dari Cambridge dan membawanya ke Hotel University Arms. Tanpa sepengetahuannya, empat agen ayahnya telah tiba dan dia dibawa paksa dari jalan di kota itu.

Shamsa dibawa ke kediaman syekh di dekat Newmarket. Pada pukul 05.00 pagi keesokan harinya, ia diangkut dengan helikopter dari Newmarket ke Prancis utara dan dari situ dibawa dengan pesawat pribadi.

Tak lama kemudian, ia telah berada di Dubai. Mimpinya untuk bisa bebas dan melanjutkan pendidikan sirna.

Mengapa investigasi Inggris terhenti?

Laporan soal penculikan ini baru sampai ke meja pejabat polisi Cambridge, David Beck, tujuh bulan kemudian. "Tidak setiap hari ada tuduhan menyangkut kepala negara di meja polisi," katanya kepada BBC pada 2018 untuk laporan dokumenter Lari dari Dubai.

Shamsa berhasil mendapat surat dari pengacara imigrasi saat ia di London sebelumnya. "Saya tak punya waktu untuk menulis rinci. Saya selalu dijaga, jadi saya langsung saja. Saya ditangkap ayah saya, ia berhasil melacak saya. Saya dikunci sampai sekarang...sekarang, saya tidak hanya meminta Anda melaporkan ini langsung. Saya minta bantuan dan libatkan pemerintah (libatkan semua)," katanya.

"Bukti saat itu menunjukkan ada bahan yang diduga digunakan. Bila tuduhan itu benar, pelanggaraan ini bertentangan dengan hukum di Inggris," kata Beck kepada BBC pada 2018.

Rincian lebih lanjut investigasi baru terungkap tahun lalu saat kepolisian Cambridgeshire mematuhi perintah pengungkapan oleh Pengadilan Tinggi.

Terungkap kemudian bahwa pejabat polisi berhasil berbicara dengan Shamsa melalui telepon dan kemudian memastikan rincian ceritanya. Namun polisi perlu ke Dubai untuk mewawancarainya. Beck mengajukan permintaan melalui kantor kejaksaan namun permintaan itu ditolak. "Saya tak pernah diberitahu apa alasannya (penolakan)," ucapnya.

Kasus itu kemudian baru terangkat lagi pada 2018 saat muncul pesan lagi dari Shamsa. Sejak itu, kasus itu ditutup karena "tidak ada bukti cukup untuk mengambil langkah lebih lanjut."

Syekh memberikan pernyataan kepada Pengadilan Tinggi Inggris dan menggambarkan Shamsa sebagai anak "yang lebih rentan dibandingkan perempuan seusianya" karena statusnya menyebabkan dia berpotensi diculik.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya