PORT LOUIS - Mauritius telah mengerahkan penjaga pantai dan angkatan bersenjatanya setelah kapal pukat berbendera China yang membawa 130 ton minyak kandas di negara kepulauan Samudra Hindia itu.
Ini adalah kapal karam kedua dalam waktu kurang dari setahun di lepas pantai Mauritius setelah sebuah kapal tanker menghantam karang pada Juli 2020 dengan 1.000 ton bahan bakar yang bocor. Insiden itu menimbulkan bencana lingkungan terburuk dalam sejarah Mauritius.
BACA JUGA: Pemerintah Selidiki Dugaan Transfer Minyak Ilegal oleh Kapal Tanker Iran
Kapten Lurong Yuan Yu mengeluarkan panggilan darurat pada Minggu (7/3/2021) sore dan mengirimkan suar setelah terdampar di Pointe-aux-Sables, di barat laut pulau utama tidak jauh dari Ibu Kota Port Louis.
Pada Senin (8/3/2021), Menteri Perikanan Sudheer Maudhoo mengatakan penyelam telah menemukan "tidak ada kebocoran, tidak ada kerusakan" di lambung kapal dan upaya akan dilakukan untuk mengeluarkan bahan bakar dari palka dengan aman.
“Operasi pemompaan akan dimulai besok, dan akan berlangsung empat hingga lima hari. Aparat juga akan berupaya untuk mengapung kembali kapal penangkap ikan tersebut,” ujarnya sebagaimana dilansir Al Jazeera.
Kapal pukat itu membawa 130 ton bahan bakar minyak dan lima ton pelumas, menurut pihak berwenang.
BACA JUGA: Kapal TSHD King Richard X Tenggelam, Begini Aksi Tim Reaksi Cepat Tekan Pencemaran Minyak
Jejak minyak yang sebelumnya terlihat di sekitar kapal bukanlah "minyak berat" tapi mungkin pelumas, katanya.
Rekaman drone menunjukkan tambalan gelap di perairan Samudra Hindia dekat kapal. Penduduk mengatakan kepada kantor berita AFP bahwa mereka melihat bahan bakar berjatuhan di pantai.
Garis penahanan mengambang telah dikerahkan sebagai tindakan pencegahan sementara penjaga pantai dan tentara telah dimobilisasi.
Maudhoo mengatakan penyelidikan telah dilakukan untuk mengetahui penyebab kecelakaan itu dan polisi telah naik ke kapal yang tertimpa kecelakaan itu dan menyita dokumen.