Ramalan Jayabaya dan Ronggowarsito, dari Bencana sampai Pertentangan Anak Bangsa

Doddy Handoko , Jurnalis
Sabtu 13 Maret 2021 06:44 WIB
Foto: Istimewa
Share :

Selanjutnya dituliskan, “Berparas seperti Batara Kresna, berwatak seperti Baladewa. Bersenjata Trisula Wedha."

" Meyebutkan bahwa paras Satria Piningumit itu seperti batara kresna (tampan, berwibawa) dan berawatak tegas seperti baladewa "ucapnya.

- “Bersenjata trisula wedha, untuk kalimat yang satu ini sepertinya di maknai secara tersirat, karena tidaklah mungkin Satria Piningit yang dipingit itu membawa trisula kemana-mana, akan terlihat mencolok yang menyebabkan dirinya tidak piningit lagi.

Dijelaskannya, pemaknaan Trisula Wedha secara garis besar bisa di maknai 3 jadi satu, seperti ilmu amal dan iman, atau bumi langit dan isinya, kiri kanan dan tengah. Bener jejeg , jujur, apapun itu yg secara filsafat mengandung 3 jadi satu. itu sesuai dengan derajatnya dewa sehingga berkelakuan mulia.

Ramalan Jayabaya ini kemudian digubah oleh Raden Ngabehi Ronggowarsito, pujangga besar keraton Solo yang lahir pada hari Senin legi pada 15 Maret 1802 dan wafat pada hari Rabo pon pada 15 Desember 1873.

Salah satu ramalan yang ditulis adalah datangnya jaman Kolobendu yang secara “Condrosengkolo” datang pada tahun 1997 dan berakhir dengan jaman Kolosubo tahun 2025.

Jaman kolobendu ini digambarkan akan terjadi pertentangan dan permusuhan diantara komponen bangsa, yang disebabkan oleh adu domba oleh “dalang” yang tidak kelihatan, karena berada di belakang layar.

Jaman Kolobendu ;

"Entenono Nuswantoro bakal ketampan bendu

Yen wis teko pandito ambuka wiwaranging Neroko

( Condro sengkolo 1997)

Pralambange jago tarung ning njero kurungan

Dalang wayang ngungkurke kelir

Sing nonton podo nangis

Entenono waluyo lan tentreme

Mengko nek wis tumeko

Pendowo Mulat Sirnaning Penganten ( Condro sengkolo 2025)" -Buku Jaman Kolobendu (Ronggowarsito) .Artinya : Jaman Kolobendu (Carut Marut).

"Tunggulah, nusantara akan mendapatkan bencana.

Jika sudah datang tahun 1997

Perlambangnya adalah Ayam jantan Bertarung di dalam kurungannya.

Sang dalang menggelar sandiwara.

Yang menonton menangis.

Tunggulah jaman kemakmuran dan ketentraman.

Nanti jika sudah datang

Tahun 2025".

Masud menerangkan bahwa Nusantara akan mendapat bebendu atau bencana. Jika sudah datang tahun 1997 ( Pandito Ambuko Wiwaraning Neroko). Pandito, Ambuko = dibuka=bolong= 9, Wiwara = pintu=terbuka= bolong-9, Neroko = 1. Artinya : Condro Sengkolo Tahun 1997.

Pada tahun 1997 Indonesia mengalami bencana ekonomi yang sangat besar, menandai awal datangnya jaman Kalabendu.

Ia memaparkan bahwa Ayam Jantan bertarung dalam kurungan, artinya terjadi banyak permusuhan, perselisihan, dan pertentangan antar anak bangsa.

Sang dalang menggelar sandiwara artinya: Segala kejadian itu ada dalang yang mengaturnya, dalang yang tidak kelihatan atau di belakang layar.

"Yang menonton menangis, artinya: Rakyat yang menjadi korbannya dan sengsara,"ucapnya.

Maka tunggulah jaman kemakmuran dan ketentraman, artinya kemakmuran dan ketentraman bangsa akan datang, maka tunggulah kedatangannya. Nanti jika sudah datang

Tahun 2005 (Pendowo Mulat Sirnaning Penganten), Pandowo = 5, Mulat = melihat = mata = 2, Sirno = hilang = 0, Temanten = pengantin= sejodo= 2. Condro Sengkolo Tahun 2025

"Jaman Kolosubo atau jaman kemakmuran dan ketentraman akan datang pada tahun 2025. Kolosubo artine Alembono = diakui dan dihormati oleh dunia,"tandasnya.

(Khafid Mardiyansyah)

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya