Pejabat India Tuding Jeans Robek Sebabkan "Kerusakan Moral"

Agregasi BBC Indonesia, Jurnalis
Senin 22 Maret 2021 15:52 WIB
Jeans robek (Foto: Daily Star)
Share :

INDIA - Baru-baru ini, Menteri Utama negara bagian Uttarakhand, India yang baru dilantik, Tirath Singh Rawat, mengeluarkan pernyataan yang kontroversial. Dia menyalahkan "jeans robek" sebagai penyebab atas semua penyakit yang diderita kaum muda.

Jeans atau denim - kain katun yang dulu digunakan untuk karung tinju favorit para leluhur India, dan secara rutin selalu disalahkan atas degradasi moral kaum muda - kembali menjadi berita.

Berbicara dalam lokakarya yang diselenggarakan oleh Komisi Negara untuk Perlindungan Hak Anak, Singh Rawat mengkritik seorang perempuan -tidak disebutkan namanya- yang ditemuinya dalam penerbangan.

Rawat mengatakan, perempuan itu bepergian dengan dua anak sambil "mengenakan sepatu bot, celana jeans robek di lutut, dan memiliki beberapa gelang di lengannya".

"Anda menjalankan LSM, bergerak dalam masyarakat, tapi mengenakan jeans yang sobek, anak-anak bersama Anda, nilai-nilai apa yang akan Anda ajarkan?" Rawat bertanya.

Anggota nasionalis Hindu dari Partai Bharatiya Janata itu kemudian menggambarkan jeans robek sebagai pakaian yang menyebabkan dan merupakan gejala dari kerusakan moral.

(Baca juga: Dokter, Perawat, Apoteker, Mahasiswa Kedokteran Turun ke Jalan Protes Kudeta Militer)

Rawat juga mengkritik orang tua karena mengizinkan anak-anak mereka, terutama perempuan, untuk memakainya.

Dia mengecam orang India karena "tengah berlari menuju ketelanjangan" dan mengklaim bahwa "ketika orang-orang di India mengenakan jins robek, orang-orang di luar negeri menutupi tubuh mereka dengan benar dan melakukan yoga".

Komentar Rawat langsung menuai kecaman luas di India.

Partai oposisi Kongres mengeluarkan pernyataan yang memintanya untuk "meminta maaf kepada semua perempuan India" - atau mengundurkan diri.

Pada Kamis (18/3), pemimpin senior partai oposisi Priyanka Gandhi Vadra membagikan foto-foto Perdana Menteri Narendra Modi dan salah satu rekan kabinetnya yang mengenakan celana selutut.

(Baca juga: Capres Kongo Meninggal karena Covid-19 Sehari Setelah Pemungutan Suara)

Kepala Komisi Perempuan Delhi, Swati Maliwal, melalui Twitternya, menuduh Rawat telah "menyebarkan kebencian terhadap perempuan".

Dalam twit bahasa Hindi, Maliwal menunjukkan bahwa masalahnya tidak hanya tentang apa yang dikatakan tetapi juga cara Rawat mengatakannya - Maliwal mengatakan Rawat telah mengaku "memandang perempuan itu dari atas ke bawah".

Ucapan Rawat juga memicu badai cekaman di Twitter oleh ribuan perempuan India - dan beberapa pria - yang membagikan foto mereka mengenakan jeans robek. Dari tagar #RippedJeansTwitter hingga #RippedJeans menjadi tren selama berjam-jam.

Beberapa warganet juga ikut menyebut Rawat di akun Twitter mereka. Bahkan beberapa menasihatinya untuk mengkhawatirkan hal-hal yang lebih penting seperti "ekonomi yang rusak" dan "keselamatan perempuan":

Pada Jumat (19/3), Rawat mengucapkan permintaan maaf. Dia menyesal jika komentarnya menyakiti siapa pun. Rawat mengatakan niatnya bukan untuk menunjukkan rasa tidak hormat kepada siapa pun dan menegaskan semua orang bebas mengenakan apa yang mereka pilih.

Dia bukan satu-satunya politisi India yang mengeluarkan nasihat tentang pakaian untuk perempuan.

Lima tahun lalu, Menteri Kebudayaan Mahesh Sharma menyarankan agar dalam daftar yang diberikan kepada turis di bandara mengatur bahwa mereka tidak boleh mengenakan rok atau gaun selama di India dan tidak boleh keluar sendirian di malam hari di kota-kota kecil.

Pada tahun 2014, penyanyi legendaris KJ Yesudas dikritik karena mengatakan perempuan tidak boleh mengenakan jeans karena "bertentangan dengan budaya India" dan memprovokasi perilaku yang "tidak diinginkan".

Pembatasan pakaian, terutama untuk perempuan dewasa dan anak, secara rutin dilaporkan terjadi di pedesaan India, dengan budaya patriarki.

Minggu lalu, dewan kasta desa di negara bagian Uttar Pradesh mengatakan perempuan dengan jeans dan rok - dan anak laki-laki dengan celana pendek - akan diboikot secara sosial.

Satu dekade lalu, dewan kasta di desa Battisa di Uttar Pradesh telah melarang anak perempuan mengenakan jeans atau menggunakan ponsel.

Pada 2014, pertemuan sesepuh desa dari 46 desa mengumumkan larangan serupa. Tiga tahun kemudian, desa-desa di Haryana dan Rajasthan juga melarang perempuan membawa ponsel atau mengenakan jeans.

Denim pertama kali mendapatkan popularitas di India pada 1980-an dan selama bertahun-tahun telah menjadi pakaian pilihan, terutama bagi kaum muda, di seluruh negeri.

Pasar denim India bernilai lebih dari USD4 miliar atau Rp57,6 triliun dan diperkirakan akan tumbuh menjadi Rp172,9 triliun pada 2028.

Dalam beberapa tahun terakhir, jeans robek menjadi sangat populer dan semua orang mulai dari bintang Bollywood, selebriti hingga orang biasa terlihat memakainya.

Menurut perancang busana Anand Bhushan, orang India memiliki "hubungan cinta-benci" dengan jeans robek.

"Untuk kaum muda, mereka terlihat gaul, keren dan cocok dengan kerumunan yang modis. Sedangkan bagi orang tua dan kakek-nenek mereka, mereka tidak dapat memahami mengapa anak-anak mengenakan pakaian robek,” terangnya.

Tapi, ketidaksukaan orang tua pada gaya busana anak mereka adalah masalah yang sama sekali berbeda ketika otoritas publik mulai menyalahkan pakaian untuk penyakit masyarakat.

"Ini upaya untuk mengontrol perempuan. Melelahkan bagaimana patriarki laki-laki ini bersembunyi di balik tabir tradisi yang merendahkan perempuan dengan mencoba mengontrol apa yang mereka kenakan," lanjutnya.

"Mereka tidak memiliki argumen baru sehingga menawarkan argumen yang sama bahwa jeans bukanlah bagian dari budaya kita, bahwa jeans berasal dari Barat,” terangnya.

Kritik Menteri Rawat terhadap jeans robek memiliki konsekuensi yang tidak disengaja. Hal ini malah mendorong beberapa orang mencoba jeans robek-robek untuk pertama kalinya.

Viji Venkatesh, seorang konselor kanker yang berbasis di Mumbai, termasuk di antara mereka yang memposting foto mengenakan jeans robek-robek di Twitter.

Venkatesh mengatakan "sangat marah" oleh komentar "konyol dan menyinggung" yang diucapkan Rawat sehingga dia "memotong celana jeans yang bagus" untuk mengubahnya menjadi robek.

"Saya berusia 69 tahun dan umumnya memakai sari. Saya juga selalu bertanya-tanya mengapa anak-anak memakai jeans robek," ujarnya.

"Tapi saya sangat marah dengan ucapan anti-perempuan Rawat sehingga pada saat kesal itu saya membuat lubang di dalamnya dan mengunggah foto memakainya di Twitter,” terangnya.

Dia menambahkan apa yang dikenakan perempuan bukanlah urusan siapa pun kecuali mereka sendiri.

"Ini bukan urusan Rawat. Dia harusnya khawatir tentang mencairnya gletser di Uttarakhand, masalah lingkungan yang dihadapi negara dan bukan tentang apa yang dikenakan perempuan,” tegasnya.

(Susi Susanti)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya