Kisah Bung Karno Dilempar Granat oleh Teroris Anak Buah Kartosoewirjo

Doddy Handoko , Jurnalis
Minggu 04 April 2021 06:14 WIB
Presiden Soekarno (Foto : Istimewa)
Share :

PADA 30 November 1957, Presiden Seokarno mengunjungi Perguruan Cikini di Jalan Cikini Nomor 76, Jakarta Pusat. Bung Karno dalam rangka menghadiri perayaan ulang tahun ke-15 di sekolah tempat bersekolah putra-putrinya.

Granat tiba-tiba meledak di tengah pesta penyambutan presiden. Sembilan orang tewas, 100 orang terluka, termasuk pengawal presiden. Soekarno beserta putra-putrinya selamat.

Dalam acara Focus Group Discussion (FGD) Divisi Humas Polri bertajuk 'Bangkitkan Nasionalisme bersama Kita Tangkal Radikalisme dan Berantas Terorisme' di The Tribrata, Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu, Sukmawati bercerita awal muncul gerakan terorisme di Indonesia .

Bermula dari tragedi Perguruan Cikini (Percik) pada 30 November 1957.

"Di dalam perjuangan membangun bangsa dan negara bangsa Indonesia ini. Saya dari kecil umur 6 tahun, saya menjadi saksi hidup mulainya adanya terorisme," ujarnya.

Tiga orang ditangkap akibat kejadian tersebut. Mereka perantauan dari Bima yang dituduh sebagai antek teror gerakan DI/TII.

"Peristiwa penggranatan Cikini 30 November 1957 adalah salah satu saja dari sekian banyak rentetan percobaan pembunuhan terhadap Bung Karno oleh anak buah Kartosoewirjo," kata Roso Daras, penulis buku "Sukarno Serpihan Sejarah yang Tercecer".

Untuk diketahui, Bung Karno dan Kartosuwirjo sejak tahun 1918 terlibat jalinan pertemanan yang kental di rumah HOS Cokroaminoto, Surabaya. Mereka bahu-membahu berjuang demi kejayaan negeri bersama Cokro. Akan tetapi, di bagian akhir, keduanya terlibat perbedaan paham yang keras.

Bung Karno yang nasionalis berselubungkan Pancasila. Karwosoewirjo bergaris Islam ekstrim, dan menghendaki Indonesia menjadi negara Islam.

Tahun 1918, 1919 dan masa-masa di sekitar itu, Bung Karno dan Kartosoewirjo benar-benar berkarib. Di luar konteks kebangsaan, mereka bergaul layaknya anak muda pada zamannya. Termasuk, saling ledek, saling ejek, dan saling lempar canda dan tawa.

Baca Juga : Kisah Tragis Gundik Belanda: Dijadikan Budak, Disiksa dan Diperjualbelikan

Kebiasaan Bung Karno berpidato di depan kaca di dalam kamar yang pengap dan gelap? Di satu kamar paling ujung, satu-satunya kamar tak berjendela sehingga siang-malam Bung Karno harus menyalakan pelita, Bung Karno acap berpidato berapi-api.

"Dari luar kamar, teriakan-teriakan Bung Karno membahana. Sekali-dua, rekan-rekan satu pemondokan menegurnya. Akan tetapi, ketika Bung Karno tidak juga menghentikan kebiasaannya berpidato di depan cermin, mereka pun mengabaikan,"ujarnya.

Satu di antara penghuni rumah yang tak bosan berkomentar atas ulah Bung Karno hanyalah Kartosoewirjo. “Hei Karno… buat apa berpidato di depan kaca… seperti orang gila saja….” Kartosoewirjo tak bosan mengejek dan melempar ledekan kepada Bung Karno?

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya