Atas itu semua, Bung Karno tak menggubris. Ia melanjutkan orasinya, meski hanya didengar tembok dan sekawanan cicak, nyamuk, dan keremangan suasana.
Usai berpidato, barulah Bung Karno membalas ledekan Kartosoewirjo. Pertama-tama, Bung Karno akan mengatakan apa yang ia lakukan adalah salah satu persiapan menjadi orang besar.
Jika Kartosoewirjo meladeni, maka aksi saling ledek pun berlanjut. Ibarat “lawan catur” langkah skakmat Bung Karno untuk membungkam ejekan Kartosoewirjo adalah kalimat menusuk seperti ini, “… tidak seperti kamu…. udah kurus, kecil, pendek, keriting… mana bisa jadi orang besar!”
Keduanya terus memperjuangkan ideologinya. Keduanya bertujuan memberi yang terbaik buat bangsanya. Sampailah Bung Karno pada proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 dan menjadi Presiden Republik Indonesia yang pertama.
Sedangkan Kartosoewirjo, meski pernah direkrut Bung Karno sebagai Wakil Menteri Pertahanan, tetapi ideologi garis kanan tak luntur.
Kartosoewirjo nyempal dan mendirikan Darul Islam/Negara Islam Indonesia (DI/NII). Bahkan tahun 1948, Kartosoewirjo memakulmatkan perang kepada Bung Karno (pemerintah yang sah). Lalu dua tahun kemudian, 1950, ia menyalakkan api perang dengan statemennya, “Bunuh Sukarno. Dialah penghalang pembentukan Negara Islam”.
Sejak itu, sejumlah usaha pembunuhan terhadap Bung Karno pun dilakukan oleh para teroris anak buah Kartosoewirjo. Sebaliknya, TNI berhasil mendesak DI/NII, menangkap gembong Kartosoewirjo… dan ia dihukum mati.
(Angkasa Yudhistira)