JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) menghadiri secara virtual Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-10 D-8, kemarin. KTT tersebut digelar di Dhaka, Bangladesh, dan diikuti delapan kepala negara atau kepala pemerintahan negara-negara anggota.
Pada kesempatan itu, Jokowi melihat krisis global akibat pandemi justru bisa menjadi batu loncatan bagi semua negara anggota D-8 untuk terus maju.
"Kita punya potensi dan kekuatan untuk maju. Dengan total populasi 1,1 miliar jiwa dan potensi ekonomi yang hampir mencapai USD4 triliun, D-8 harus menjadi bagian penting agar dunia bisa keluar dari pandemi, agar dunia bisa kembali pulih," katanya dikutip dari pers rilis Biro Pers Setpres, Jumat (9/4/2021).
Jokowi juga menyampaikan, negara-negara D-8 harus tetap mendorong akses yang adil terhadap vaksin. Dia pun menyerukan penolakan adanya nasionalisme vaksin.
"Ketersediaan dan keterjangkauan vaksin merupakan kunci untuk keluar dari krisis. Namun, saat ini kita saksikan meningkatnya nasionalisme vaksin. Ini harus kita tolak. Kita harus mendukung vaksin multilateral," tuturnya.
Menurutnya, vaksin Covid-19 adalah barang publik global. Sehingga dunia perlu bersatu untuk memproduksi dan mendistribusikan vaksin untuk semua.
Karena itu, dia mengatakan, dunia harus dapat menggandakan kapasitas produksi. Dia menegaskan tidak boleh ada pembatasan terhadap produksi dan distribusi vaksin.
"Di sinilah D-8 bisa berperan dalam menawarkan kapasitas produksi yang dimilikinya untuk meningkatkan produksi, mendorong akses yang sama terhadap vaksin, dan mendorong transfer teknologi," ucapnya.
"Beberapa dari kita, termasuk Indonesia, tengah mengembangkan produksi vaksin sendiri. D-8 harus membuka kerja sama pengembangan dan produksi vaksin ke depan," katanya.
Baca Juga : Hadiri KTT D-8 secara Virtual, Jokowi Dorong Percepatan Penanganan Pandemi Covid-19
Selain itu, Jokowi menyampaikan negara-negara D-8 harus berkontribusi pada pemulihan ekonomi global. Dengan potensi perdagangan antarnegara anggota yang melebihi USD1,5 triliun, dia yakin D-8 dapat berkontribusi besar dalam pemulihan ekonomi global.