JAKARTA - Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin (BGS) mengibaratkan Covid-19 seperti teroris. Sementara para contact tracer atau petugas tracing untuk melacak kasus Covid-19 adalah intelijen.
“Ini (petugas tracing) kayak “intel”. Kalau intel-nya lengah tiba-tiba teroris masuk bomnya meledak. Lebih baik intelnya banyak,” ujar Budi secara virtual dari kanal Kementerian Kesehatan, Selasa (18/5/2021).
Budi juga menyampaikan kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk tidak menegur kepala daerah jika kasus Covid-19 tinggi di wilayahnya. Namun, lanjut dia, teguran kepala daerah bisa disampaikan Jokowi bila kasus positivity rate-nya tinggi.
“Kasus tinggi tidak apa-apa, saya sudah bilang ke bapak Presiden, saya sudah bilang kepada Pak Erlangga (Menko Perekonomian), saya sudah bilang ke Pak Doni (Kepala Satuan Tugas Penanganan Covid-19), jangan tegur kalau Kepala Daerah kalau kasusnya tinggi,” paparnya.
Baca juga: Realisasi Anggaran Vaksin Covid-19 Capai Rp6,9 Triliun
Menurut Budi, kepala daerah harus ditegur jika positivity rate 25% atau 30%. Artinya, testing di daerah dipastikan kurang. “Tapi tegur kalau positivity ratenya 25%, 30%, itu pasti kurang testing. Pasti banyak orang yang sakit tidak teridentifikasi. Banyak orang-orang sakit yang bisa menulari sehingga banyak yang jadi wafat.”
“Lebih baik kita bisa identifikasi yang benar, kemudian kita pasang langkah-langkah perbaikan,” ujarnya.
Baca juga: Antisipasi Lonjakan Kasus Covid-19 Usai Lebaran, Menkes: Bed Isolasi Masih 200%
Ia pun meminta semua pihak terutama kepala daerah dan juga di Kementerian Kesehatan untuk meningkatkan testing dalam rangka menemukan kasus Covid-19.
“Jadi lebih baik kepala Ddaerah dan saya di Kementerian Kesehatan, kita lihat angkanya seperti apa dan kita bisa lakukan perbaikan. Daripada kita lengah, intelnya lengah, kemudian teroris yang masuk tidak terkontrol. Sehingga banyak rakyat kita yang wafat,” tuturnya.
(Fakhrizal Fakhri )