JAKARTA — Para peneliti telah mulai melakukan pengeboran dan pemindaian di situs arkeologi Formasi Durupınar di Turki timur, lokasi yang diyakini sebagian pihak sebagai tempat peristirahatan terakhir Bahtera Nuh. Pengeboran ini merupakan bagian dari ekspedisi Noah's Ark Scans, yang bertujuan menyelidiki apa yang terkubur di bawah permukaan lokasi di dekat Gunung Ararat yang menjadi perdebatan tersebut.
Pemindaian terbaru mendeteksi adanya bentuk-bentuk yang tampak seperti garis lurus, persimpangan bersudut siku-siku, dan ruang-ruang cukup luas di bawah formasi tersebut. Sementara itu, kegiatan pengeboran berhasil mengangkat lapisan material organik serta menemukan lapisan bawah tanah yang sangat keras—yang kabarnya bahkan sampai mematahkan mata bor.
Tim peneliti bahkan mengklaim bahwa hasil kerja terbaru ini telah "mengonfirmasi 100 persen" bahwa formasi tersebut merupakan buatan manusia. Meski begitu, tidak dapat dipastikan bahwa formasi ini merupakan Bahtera Nuh yang termasyhur dan disebutkan dalam kitab suci.
Penyelidikan sedang berlangsung di Formasi Durupınar, sekitar 32 km di sebelah selatan Gunung Ararat. Lokasi ini telah menarik minat para pencari Bahtera Nuh selama beberapa dekade karena bentuk luarnya sangat mirip dengan kapal jika dilihat dari atas.
Objek ini pertama kali teridentifikasi melalui foto udara pada 1959 dan memiliki panjang sekitar 157 meter. Para peneliti telah berulang kali memperdebatkan apakah bentuk yang tidak biasa itu merupakan sisa-sisa sebuah kapal atau sekadar hasil dari proses geologis alami.
Tahun ini, para peneliti melakukan penyelidikan ke tahap yang lebih lanjut.
Dilansir Euro Weekly News, sebuah tim internasional yang dipimpin oleh arkeolog Profesor Cenker Atila dari Universitas Sivas Cumhuriyet telah melakukan penelitian geologis dan arkeologis menggunakan radar penembus tanah (ground-penetrating radar), tomografi resistivitas listrik, LiDAR, dan pengeboran inti. Proyek ini telah mendapatkan persetujuan resmi dari pihak berwenang Turki.