Demi Masa Depan, Warga AS Pilih Ganti Profesi Paska Pandemi Covid-19

Agregasi VOA, Jurnalis
Jum'at 21 Mei 2021 11:28 WIB
Warga AS pilih ganti profesi paska pandemi Covid-19 (Foto: AP)
Share :

Pada musim gugur, Victoria’s Secret menawarkan Sarah pekerjaan paruh waktu dengan gaji USD12 atau sekitar 171 ribu rupiah per jam. Namun, ia menolaknya. Ia dan suaminya yang kini bekerja dengan jam kerja yang panjang di sebuah restoran tidak mampu membayar pengasuh anak.

“Walau dengan penghasilan saya sebagai manajer di Victoria’s Secret, saya tetap tidak mampu membayar pengasuh untuk dua anak di bawah tiga tahun. Apalagi dengan posisi paruh waktu yang ditawarkan dengan gaji USD12 atau 171 ribu rupiah per jam. Sudah pasti uang saya akan habis, jika harus memasukkan kedua anak saya ke tempat penitipan anak,” ujar Sarah kepada Associated Press.

Sarah lalu diterima di sebuah program bernama Run for Woman di St. Louis, yang menawarkan pembinaan dan pelatihan karier untuk pekerjaan dengan permintaan tinggi, termasuk di bidang perbankan, layanan kesehatan, layanan pelanggan, dan teknologi.

Lebih dari 950 perempuan mendaftarkan diri untuk 117 slot yang ada dalam program tersebut selama pandemi.

“Menjadi Ibu seperti menghentikan karier saya yang dulu. Saya merasa tidak bisa menjadi seorang Ibu dan tetap bekerja di sektor ritel,” terangnya.

Saat musim gugur nanti ketika anak perempuan tertuanya mulai masuk TK, Sarah berharap bisa mendapatkan pekerjaan paruh waktu dalam karier barunya.

Warga AS lainnya, Shelly Ortiz, 25, dulu mencintai kariernya sebagai pelayan restoran. Namun semuanya berubah bulan Juni lalu, ketika restoran Phoenix tempatnya bekerja membuka kembali ruang makannya. Ia mengenakan dua masker dan kacamata untuk melindungi dirinya, namun tetap merasa cemas berada di restoran yang penuh dengan pelanggan tanpa masker. Ia hampir tidak pernah makan atau minum saat bekerja.

Pelecehan seksual pun juga semakin parah, katanya. Pelanggan memintanya untuk menurunkan maskernya, supaya mereka bisa melihat seberapa cantik dirinya, sebelum memberi tip.

“Saya telah mengalami banyak pelecehean seksual (ketika bekerja) di industri pangan, tapi hal ini bertambah buruk di masa pandemi,” cerita Shelly kepada Associated Press.

Shelly berhenti kerja pada Juli lalu, setelah ia mengetahui bahwa restoran tersebut tidak membersihkan bar setelah seorang bartendernya berpotensi terkena virus corona.

“Tunjangan pengangguran yang saya terima lebih banyak dibandingkan penghasilannya dalam satu minggu yang sibuk dulu. Kini, saya bisa menggunakan waktu saya untuk memikirkan langkah-langkah yang bisa diambil untuk mengembangkan diri,” terangnya.

Dia dan pasanganya yang bekerja sebagai guru, membatasi pengeluaran mereka dan menemukan berbagai cara agar Shelly bisa kembali meneruskan pendidikan secara penuh waktu.

“Bagus kalau saya bisa mendapat pekerjaan (selama menempuh pendidikan). Tapi jika tidak, saya bisa mengatasinya,” katanya.

Pada Mei lalu, dia lulus dari Glendale Community College dengan gelar di bidang film dan sertifikat penyutradaraan film dokumenter.

Shelly berhenti mendapatkan tunjangan pengangguran bulan November lalu, ketika ia mendapatkan pekerjaan paruh waktu di dunia film.

Dia menjelaskan meski tabungannya ketat, namun dia tidak pernah merasa bahagia seperti sekarang ini. Tak terpikir bahwa ia akan menjadi pelayan restoran lagil.

Para pekerja seperti Nate, Sarah, dan Shelly adalah penyebab lambannya perekrutan di AS pada April lalu. Beberapa pengusaha dan kelompok bisnis, termasuk Kamar Dagang Amerika Serikat, menyerukan penghentian tunjangan pengangguran federal sebesar USD300 atau sekitar 4,2 juta rupiah per minggu. Jumlah ini hanya memberikan lebih sedikit insentif untuk mencari pekerjaan baru nantinya.

(Susi Susanti)

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya