"Terdapat industri-industri lain yang terdampak. Kami membeli jaring dan mesin dan perahu, kami memerlukan bahan bakar, lalu ada orang-orang yang menarik perahu. Ada ribuan lapangan pekerjaan lain yang terkait dengan industri perikanan," kata ketua persatuan nelayan Densil Fernando.
Polusi kimia
Dampak yang paling panjang yang kemungkinan akan dialami Sri Lanka adalah polusi kimia. Di antara bahan kimia paling berbahaya yang diangkut kapal tersebut terdapat asam nitrat, sodium dioksida, tembaga dan timbal, kata Withanage.
Begitu masuk ke air, bahan-bahan kimia itu terserap ke perut penghuni laut. Ikan kecil mungkin akan cepat mati akibat keracunan ini, tetapi ikan besar kemungkinannya kecil. Sebaliknya, ikan besar akan terkontaminasi racun jika memakan ikan-ikan kecil itu.
Menurut Withange, ikan, penyu dan lumba-lumba yang mati telah hanyut ke pantai. Sebagian di antaranya berubah warna menjadi kehijau-hijauan, yang kemungkinan telah terkontaminasi dengan logam dan bahan kimia.
Artinya, ikan dari lokasi itu berbahaya bagi manusia, tidak hanya sekarang tetapi bertahun-tahun kemudian. "Warga perlu diberi edukasi mengenai masalah ini," kata Withange.
"Kapal ini penuh dengan racun sekarang. Sampah dalam bentuk apapun yang terbawa ke pantai sangat beracun dan warga bahkan seharusnya tidak menyentuhnya," tambah Withange seperti dilaporkan oleh wartawan BBC, Ranga Sirilal dan Andreas Illmer.
Masalah ini tidak hanya terlokasir di kawasan sekitar kapal tenggelam di pesisir barat Sri Lanka. "Sampah, toksin, plastik tidak terikat pada batas geografis," jelas Britta Denise Hardesty dari CSIRO Oceans and Atmosphere, Australia kepada BBC.
"Barang-barang itu akan dibawa oleh angin, ombak, arus dan kejadian-kejadian lain yang berubah sesuai dengan musim."
Operasi pembersihan
Meskipun sebelumnya pernah mengalami kapal tenggelam, Sri Lanka belum pernah mengalami kapal karam yang mengangkut muatan beracun seperti ini. Negara itu tidak siap menghadapi tugas berat ini.
Perusahaan kapal pemilik X-Press Pearl telah mengontrak perusahaan internasional untuk menangani krisis tersebut dan mengatakan para ahli perusahaan itu sudah berada di Sri Lanka.
Aktivis lingkungan dan pendiri lembaga Pusat Keadilan Lingkungan, Hemantha Withanage, ragu apakah perusahaan komersial itu akan berusaha maksimal untuk mengatasi masalah.
Peristiwa kapal karam telah menjadi kasus pengajuan klaim asuransi yang banyak menyedot perhatian dan kemungkinan pembayaran klaim yang besar bisa jadi mengalahkan dampak yang dialami kehidupan laut.
Pusat Keadilan Lingkungan pimpinan Withanage telah melayangkan gugatan kepada pemerintah Sri Lanka dan perusahaan kapal, namun diakuinya hasil terbaik dari gugatan itu kemungkinan hanyalah berupa peningkatan kesadaran masyarakat.
(Arief Setyadi )