JAKARTA - Kebijakan sekolah tatap muka yang rencananya akan dilaksanakan bulan Juli mendatang disebut sebagai rencana yang tidak bersinergi, karena kini Indonesia tengah berada di puncak gelombang Covid-19. Hal tersebut dilontarkan oleh Epidemiolog dari Griffith University Australia, Dicky Budiman dalam Special Dialogue bersama Okezone.
"Ini membuktikan bahwa bagaimana pemerintah ini merencanakan satu aksi, buka sekolah ini, tidak bersinergi," ucapnya.
"Karena kalau kita serius membuat anak-anak kita bisa pembelajaran offline dengan aman itu semua sektor bersinergi untuk situasi dan suasana yang kondusif, artinya aman," sambung Dicky.
Dicky menuturkan dalam komitmen global strategi pandemi, sekolah adalah tempat terakhir yang ditutup ketika pandemi terjadi dan menjadi tempat pertama yang dibuka ketika pandemi berangsur membaik bukan pusat perbelanjaan atau pun perkantoran.
"Ini salah kaprah karena intervensi kita sering kali tidak berbasis science hanya berbasis kepentingan ekonomi ini yang akhirnya, jangan disalahkan kalau akhirnya kita akan menghadapi situasi dilematis," tuturnya.
Dicky menambahkan bahwa rencana pembukaan sekolah ini harus ditinjau berdasarkan kesiapan masing-masing daerah dan tidak bisa dipaksakan.
Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Anwar Makarim sebelumnya mengatakan sekolah tatap muka mulai dibuka pada Juli 2021. Kebijakan tersebut tidak bisa ditawar lagi. Uji coba pelaksanaan kegiatan juga telah dilakukan dibeberapa daerah termasuk DKI Jakarta.
(Khafid Mardiyansyah)