SEJARAWAN Peter Carey, dalam buku "Kuasa Ramalan" menuliskan, pada 11 November 1829, Pangeran Diponegoro nyaris tertangkap di Kali Progo oleh pasukan Belanda.
Diponegoro memutuskan untuk masuk ke hutan-hutan di sebelah barat Bagelen dengan hanya ditemani dua punakawan (pengiring terdekat), yakni Bantengwareng dan Roto, yang melayani semua kebutuhan Pangeran dan bertindak sebagai penunjuk jalan dan penasihatnya (Louw dan De Klerck 1894-1909,V:423; Carey 1974a:25).
Pengembaraan ini membawa Diponegoro sampai ke Sampang di daerah Remo di hulu Kali Cincingguling, kawasan yang jauh antara Bagelen dan Banyumas, tempat di mana ia terus menetap sampai 9 Februari 1830, ketika negosiasi-negosiasi awal dengan Kolonel Jan Baptist Cleerens (1785-1850) mulai.
Berikut ini adalah petikan tulisan George Nypels, sejarawan militer Belanda dan instruktur di Akademi Militer Kerajaan Belanda di Breda, dalam diktat kuliah yang diberikannya tentang Perang Jawa (Nypels 1895:153):
“Terus bergerak karena dikejar-kejar, Diponegoro mampu meluputkan diri dari kejaran empat pasukan gerak cepat Belanda […] dan juga barisan tentara lokal sejak Oktober 1829 hingga Februari 1830. Berkelana di pegunungan dan menembus hutan lebat yang masih perawan, bersembunyi di gua-gua, mencari bantuan di mana itu dimungkinkan di tengah hujan lebat dan angin kencang.
Ia sering bisa menghindar ketika orang [pejabat atau perwira Belanda] merasa ia dekat. Jumlah pengikut terdekatnya satu demi satu tewas atau menyerah.
Baca Juga : Kisah Pangeran Diponegoro dengan Keris Kiai Ageng Bondoyudo yang Ikut Dikubur di Makassar
Ia menderita serba kekurangan: sering tidak punya tempat berteduh (di waktu malam) dan sering tanpa cukup makanan; ia menemukan bahwa penduduk setempat sudah enggan membantunya.