Sesaat kemudian terjadi perdebatan. Entong Gendut menyalahkan Gubernemen yang terlalu memihak pada kepentingan Belanda dan mengecam kebijakan-kebijakan mereka yang banyak merugikan penduduk. Utusan Gubernemen tidak siap untuk disudutkan, mereka murka.
Suasana semakin memanas, Entong Gendut berteriak, “Aya gedruk ni tanah bakal jadi laut...!”. Namun mereka tidak berani bertindak konyol.
Suatu ketika, pemerintah Hindia Belanda dikejutkan oleh sepucuk surat dari Entong Gendut, di dalam suratnya, gantian Entong Gendut yang memanggil pejabat Gubernemen untuk menghadap dirinya, alias Raja muda, alias Entong Gendut untuk mempertanggungjawabkan segala perbuatan yang mereka lakukan pada penduduk Condet.
Belanda tidak tinggal diam, mereka mempersiapkan sejumlah pasukan untuk sebuah operasi. Entong Gendut sebagai target operasi mereka, sementara pasukannya akan dilibas habis. Para mantri polisi dan Wedana yang langsung memimpin operasi penangkapan Entong Gendut.
Mereka para marsose itu mengepung rumah Entong Gendut, Wedana berteriak lantang memerintahkan Entong Gendut menyerah. Moncong-moncong senapan sudah mengarah ke sasaran, hanya tinggal menunggu aba-aba.
Tapi konsentrasi massa yang terdiri dari para pemuda Condet berilmu tinggi telah bersiap di hadapan mereka. Di dalam rumah, Entong Gendut malah bersembahyang dengan tenangnya, suara-suara teriakan wedana itu sama sekali tak mengganggu konsentrasi ibadah si Raja Muda. Sepertinya ia sengaja membiarkan pasukan Belanda berlama-lama menunggu.
Setelah sembahyang Entong Gendut keluar. Di tangannya ia menggenggam tombak ditutupi kain putih, goloknya yang setia itu nampak terselip di pinggang. Di tangan satunya lagi ada bendera merah dengan gambar bulan sabit berwarna putih. Ia membalas teriakan wedana dengan mengatakan bahwa dirinya tidak akan tunduk pada siapapun termasuk Belanda.
“Sabilullah..., sabilullah...!” pasukannya mengamini.
Pertempuran tak dapat dihindarkan. Tapi kemenangan ada di pihak Entong Gendut. Marsose-marsose banyak yang mati, wedana pun menjadi tawanan.
Dan bukan main marahnya Belanda ketika mengetahui wedana telah ditawan dan marsose-marsose itu kalah oleh penduduk yang hanya mengandalkan tangan kosong atau golok. Bala bantuan berkekuatan besar segera didatangkan.
Hari itu Belanda benar-benar mengerahkan kekuatan penuh untuk melumpuhkan Entong Gendut. Kali ini mereka menerapkan siasat baru. Entong Gendut sengaja telah dijebak.
Jawara Condet sakti itu tidak menyadari siasat baru operasi penangkapan yang diterapkan Belanda. Di Balekambang, di tepi anak sungai Ciliwung, insiden berdarah di Condet itu pun terjadi.
“Di anak sungai Ciliwung, kampung Balekambang, para marsose yang telah menemukan kelemahan Entong Gendut itu mengakhiri sepak terjang pahlawan Condet tadi,”tambahnya.
Semula para marsose sempat dipukul mundur, mereka berlarian kocar kacir menyeberangi anak sungai Ciliwung. Entong Gendut berusaha mengejar, tapi kawan-kawannya memperingati agar tidak ikut menyeberangi sungai. Emosi sudah naik ke ubun-ubun, Entong Gendut tidak lagi menggubris peringatan kawan-kawannya. Ia tetap berenang menyeberangi sungai mengejar para marsose.
Memang itu rencana yang diinginkan Belanda, yaitu membunuh Entong Gendut saat berada di sungai.
Rahasia kelemahan Entong Gendut yang telah diketahui pihak Belanda itu adalah bocoran informasi dari pengkhianat bangsa kepada pihak Belanda bahwa Entong Gendut hanya bisa dibunuh saat berada di dalam sungai. Akhirnya Entong Gendut tewas diberondong oleh peluru-peluru marsose.
(Khafid Mardiyansyah)