JAKARTA - Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menyatakan bahwa kepatuhan masyarakat dalam disiplin menerapkan protokol kesehatan (prokes) akan membuat aspek kesehatan dan ekonomi dapat berjalan bersama, kendati pandemi Covid-19 belum berakhir.
"Kalau kita amati sepertinya kita akan hidup lebih lama dengan virus ini. Enggak akan virus ini cepat hilang. Oleh karena itu, kita mesti membangun prokes yang bisa mengatur segala tata kehidupan kita sehari-hari, aman tapi juga tetap bisa beraktivitas agar perekonomian bisa berjalan," ujarnya, Selasa (17/8/2021).
Pengaturan antara kesehatan dan perekonomian itu telah diterapkan di 180 pusat perbelanjaan/mal lewat pemasangan sistem teknologi digital pengecekan kesehatan dan vaksin. Sistem pengecekan itu telah terintegrasi dengan aplikasi PeduliLindungi.
Baca juga: Pemerintah Siapkan Pilot Project Prokes Hadapi Pandemi Covid-19
Menurut dia, sudah ada sekitar satu juta orang yang telah melakukan pengecekan melalui teknologi baru itu sebelum mereka masuk pusat perbelanjaan.
Ke depan, sistem teknologi digital kesehatan tersebut akan diterapkan di sektor industri, transportasi, baik darat, laut, maupun udara, keagamaan, pendidikan, dan pariwisata.
"Jadi kehidupan kita sehari-hari akan di-adjust (disesuaikan) prokesnya dengan menerapkan teknologi digital," kata dia.
Baca juga: Jelang PON, Pemerintah Kebut Vaksinasi Covid-19 di Papua
Budi mengatakan upaya memutus rantai penularan virus corona akan sia-sia jika pemerintah berjalan sendirian. Sehingga, diperlukan upaya bersama agar pandemi Covid-19 ini bisa segera berakhir.
"Kita harus bekerja yang sama mengambil perannya masing-masing. Rakyat-pemerintah, muda-tua, miskin-kaya, orang Aceh-Jawa, kita harus berupaya sama-sama, karena tidak ada yang aman sampai semuanya selamat," kata dia.
Sebelumnya, Menkes Budi Gunadi Sadikin mengatakan akan fokus mengendalikan pandemi Covid-19 agar laju penularan terus berada di bawah kapasitas pelayanan kesehatan nasional pada 2022 dengan mendorong penerapan protokol kesehatan, melakukan deteksi, dan melakukan vaksinasi.
Dalam RUU APBN 2022 yang dibacakan Presiden Jokowi, pemerintah menganggarkan belanja untuk sektor kesehatan sebesar Rp255,3 triliun atau 9,4 persen dari total belanja negara.
"Tiga strategi kesehatan ini, perubahan perilaku, deteksi, dan vaksinasi akan terus berjalan sampai pandemi berubah menjadi epidemi. Jadi jangan dikendorkan, tetap dibutuhkan meski kasus sudah menurun, bahkan mungkin menjadi bagian dari kehidupan kita sehari-hari ke depan," katanya.
Baca juga: Kumpul-Kumpul dan Karaoke, 15 Camat di Tegal Terancam Denda Rp100 Ribu
(Fakhrizal Fakhri )