Pada masa setelah kemerdekaan RI Radjiman pernah menjadi anggota DPA, KNIP, dan pemimpin sidang DPR pertama di saat Indonesia kembali menjadi negara kesatuan dari RIS.
dr. Radjiman memiliki darah Gorontalo dari ibunya, sedangkan Ayahnya Sutodrono dan Pamannya Wahidin Soedirohoesodo yang membiayai pendidikannya di Batavia. Hal itu berdasarkan kutipan dari Wikipedia.
Masalah pendidikan, dr. Radjiman hanya dengan mendengarkan pelajaran di bawah jendela kelas saat mengantarkan putra Dr. Wahidin Soedirohoesodo ke sekolah, kemudian atas belas kasihan guru Belanda disuruh mengikuti pelajaran di dalam kelas sampai akhirnya di usia 20 tahun. Ia pun sudah berhasil mendapatkan gelar dokter dan mendapat gelar Master of Art pada usia 24 tahun. Ia juga pernah belajar di Belanda, Prancis, Inggris dan Amerika.
Pilihan belajar ilmu kedokteran yang diambil berangkat dari keprihatinannya ketika melihat masyarakat Ngawi saat itu dilanda penyakit pes, begitu pula ia secara khusus belajar ilmu kandungan untuk menyelamatkan generasi ke depan di mana saat itu banyak ibu-ibu yang meninggal karena melahirkan.
Sejak tahun 1934 ia memilih tinggal di Desa Dirgo, Kecamatan Widodaren, Kabupaten Ngawi dan mengabdikan dirinya sebagai dokter ahli penyakit pes, ketika banyak warga Ngawi yang meninggal dunia karena dilanda wabah penyakit tersebut. Rumah kediamannya yang sekarang telah menjadi situs sudah berusia 134 tahun. Begitu dekatnya Radjiman dengan Bung Karno sampai-sampai Bung Karno pun telah bertandang dua kali ke rumah tersebut.
dr. Radjiman meninggal dunia di Ngawi, Jawa Timur, pada 20 September 1952 pada umur 73 tahun. Pada saat itu, Presiden Soekarno hadir dalam pemakaman tokoh tersebut. (din)
(Rani Hardjanti)