JAKARTA - Dalam Rapat Kerja (Raker) Komisi I DPR, Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno Marsudi menjelaskanperkembangan sejumlah isu internasional, salah satunya proses evakuasi 26 warga negara Indonesia (WNI) dan 7 warga negara asing (WNA) atau disebut evacuee, yang tiba di Jakarta pada 21 Agustus lalu.
Menurut Retno, evakuasi ini menjadi salah satu evakuasi yang paling berat dan sangat kompleks.
“Pada 28 Agustus, setelah menjalani karantina, WNI telah diserahterimakan kepada keluarga. Evakuasi ini merupakan salah satu evakuasi yang paling berat, yang sangat kompleks, dan memerlukan perhitungan yang sangat masak,” kata Retno di Ruang Rapat Komisi I DPR, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Kamis (2/9/2021).
Retno menjelaskan, ada dua hal yang terus dihitung dengan matang pada saat proses evakuasi. Pertama, keselamatan evacuee dari titik KBRI Kabul, Afghanistan menuju bandara. Sebagaimana diketahui, wilayah di luar bandara dikuasai Taliban.
“Dan dari sejak awal persiapan evakuasi kita telah meminta jaminan keamanan kepada Taliban dan jaminan keamanan tersebut diberikan,” terangnya.
Baca juga: Kemlu: Indonesia Tak akan Tergesa-gesa Akui Pemerintahan Taliban
Yang kedua, sambung Retno, memperoleh izin landing serta memastikan para evacuee dapat masuk ke pesawat dengan selamat. Di sini Indonesia lebih banyak berurusan dengan NATO dan negara-negara anggota NATO, karena pemberian izin dan pengelolaan bandara militer semua dikelola oleh NATO
Menurut dia, semua aset diplomasi Indonesia digunakan dalam proses ini, mulai dari persiapan pelaksanaan sampai proses evakuasi, semua itu harus dilakukan demi keselamatan WNI serta evacuee lainnya.
“Dan kita melihat sehari setelah proses evakuasi ini kita lakukan situasi di Bandara Kabul menjadi lebih kompleks dan terakhir peristiwa serangan teroris ke bandara pada tanggal 26 Agustus yang menjadikan situasi pada saat itu menjadi lebih chaotic,” ujar Retno.
Bahkan, Retno sendiri tidak dapat membayangkan jika proses evakuasi kemarin tidak berhasil, mungkin proses evakuasi akan menempuh jalan yang lebih panjang. Karenanya ia sangat bersyukur bahwa proses evakuasi telah berhasil dilakukan dan dimudahkan oleh Tuhan.
“Dan saya tidak dapat membayangkan seandainya ekstraksi tidak dapat kita lakukan pada 20 Agustus, mungkin upaya evakuasi akan menempuh jalan yang lebih panjang dan tidak menentu. Sekali lagi Alhamdulilah kita diberi kemudahan oleh-Nya,” ucapnya.
(Qur'anul Hidayat)