Investigasi Diluncurkan Usai Pelanggaran Data Penerjemah Afghanistan

Vanessa Nathania, Jurnalis
Selasa 21 September 2021 10:11 WIB
Penerjemah Afghanistan bekerja untuk pasukan Inggris (Foto: PA)
Share :

KABUL - Menteri Pertahanan Inggris Ben Wallace telah meluncurkan penyelidikan terhadap pelanggaran data yang melibatkan alamat email dari puluhan penerjemah Afghanistan yang bekerja untuk pasukan Inggris.

Lebih dari 250 orang yang mencari relokasi ke Inggris - banyak di antaranya bersembunyi - secara tidak sengaja keliru disalin ke dalam email dari Kementerian Pertahanan.

Alamat email mereka dapat dilihat oleh semua penerima, dengan menunjukkan nama orang dan beberapa gambar profil terkait.

Dilansir dari BBC, Kementerian Pertahanan telah meminta maaf dalam sebuah pernyataan. Email tersebut dikirim ke penerjemah yang tetap berada di Afghanistan atau penerjemah yang sudah berhasil pergi ke negara lain.

Anggota parlemen dari Partai Konservatif dan mantan menteri pertahanan, Johnny Mercer mengatakan perlakuan terhadap para penerjemah itu "sangat memalukan" dan banyak yang akan "pindah rumah lagi malam ini".

(Baca juga: Kapal Perang Canggih Buatan Inggris Akan Dibangun di Indonesia)

Email itu dikirim oleh tim yang bertanggung jawab atas Kebijakan Relokasi dan Bantuan Afghanistan (Arap) Inggris, yang telah melakukan kontak dengan mereka sejak Taliban menguasai negara itu bulan lalu.

Tim mengatakan kepada penerjemah bahwa mereka melakukan segala yang bisa dilakukan untuk membantu memindahkan mereka.

Tim tersebut juga mengatakan mereka tidak boleh menempatkan diri mereka atau keluarga mereka dalam risiko jika tidak aman bagi mereka untuk meninggalkan lokasi mereka saat ini.

Tetapi seorang penerjemah yang menerima email tersebut menyadari bahwa lebih dari 250 warga Afghanistan yang bekerja dengan pasukan Inggris telah disalin ke dalam email tersebut.

 (Baca juga: Inggris Akan Bekerja Sama dengan Taliban Jika Kuasai Afghanistan)

"Kesalahan ini dapat merenggut nyawa penerjemah, terutama bagi mereka yang masih berada di Afghanistan," kata mereka kepada BBC.

"Beberapa penerjemah tidak menyadari kesalahan yang ada dari kejadian ini dan mereka sudah membalas semua email dan menjelaskan situasi mereka yang sangat berbahaya. Email tersebut berisi gambar profil dan detail kontak mereka,” lanjutnya.

Kementerian Pertahanan kemudian mengirim email lain 30 menit kemudian dengan judul "Penting - kontak kasus Arap" meminta penerima untuk menghapus email sebelumnya dan memperingatkan "alamat email Anda mungkin telah disusupi".

Dengan adanya kejadian ini, penerjemah direkomendasikan untuk mengubah alamat email mereka.

Menteri Pertahanan Bayangan Buruh, John Healey mengatakan pembobolan data "secara sia-sia membahayakan nyawa" dan meminta pemerintah untuk segera meningkatkan upaya membawa penerjemah ke Inggris.

(Susi Susanti)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya