JAKARTA – Berakhir sudah sepak terjang Abdul Kahar Muzakkar. Mantan pengawal Presiden Soekarno yang jadi pemimpin pemberontakan DI/TII di Sulawesi Selatan itu tewas ditembak anggota Pasukan Siliwangi TNI dalam penyergapan pagi buta pada Hari Raya Idul Fitri 1386 Hijriah atau persisnya 3 Februari 1965.
Kematian Kahar Muzakkar mengakhiri perburuan panjang terhadap pentolan Kesatuan Gerilya Sulawesi Selatan (KGSS) tersebut. Pasukan TNI telah lama mengincar Ladomeng (nama lahir Kahar Muzakkar) sejak dia melancarkan aksi pemberontakan secara terbuka.
Kahar selalu berpindah-pindah tempat di rimba belantara Sulawesi. Jejaknya mulai terendus ketika perwira kepercayaannya, Letkol Kadir Junus, menyerah kepada Tim Operasi Kilat TNI pada Januari 1965.
“Ia membuka rahasia dengan menunjukkan perkiraan daerah persembunyian Kahar Muzakkar di suatu tempat di Sungai Lasolo, Kabupaten Kendari, Sulawesi Tenggara,” kata Sintong Panjaitan dalam buku “Sintong Panjaitan: Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando,” karya Hendro Subroto, dikutip Sabtu (21/3/2026).
Sintong menjelaskan, pada September 1952, kota kecil Barakka yang menjadi markas besar Kahar direbut oleh pasukan pemerintah pusat dan dibakar habis. Kahar dan anak buahnya lantas mundur masuk hutan lebih dalam di pegunungan Latimojong, kemudian menuju Siwa.
Mereka lantas terdeteksi sampai Batu Putih, suatu pegunungan berhutan lebat yang sangat sukar ditembus dari luar. Kawasan ini agaknya dipilih karena cocok untuk perang gerilya.