Pada dini hari 3 Februari, Umar memerintahkan pasukannya mengepung perkemahan. Empat prajurit ditinggal di seberang sungai untuk mencegah lawan yang sekiranya nanti melarikan diri. Pasukan Para Kujang ini mengepung seraya menunggu terang.
“Tepat pukul 04.00 subuh, satu peleton pasukan Kujang I mulai bergerak melakukan penyusupan senyap hingga jarak sangat dekat tanpa diketahui lawan,” kata Iwan Santosa dan EA Negara dalam buku Kopassus untuk Indonesia: Profesionalisme Prajurit Kopassus.
Atmaji mengisahkan pagi buta itu pecah dengan baku tembak. Dalam suasana subuh yang masih remang tampak seseorang keluar dan berlari membawa sesuatu. Prajurit Kujang mengira barang di tangan orang tersebut granat.
Tak mau mengambil risiko, anggota pasukan Peltu Umar, Kopral III Ili Sadeli menembakkan rentetan senapan Thompson. Tiga peluru bersarang di tubuh pria itu yang membuatnya roboh bersimbah darah.
Sosok tersebut tak lain Kahar Muzakkar, pemimpin tertinggi Republik Persatuan Islam Indonesia yang selama ini dicari. Jenazah Kahar lantas diterbangkan dengan heli Mil Mi 4.
(Zen Teguh)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.