Bahkan sebelum Taliban kembali berkuasa, Afganistan telah menghadapi masalah akut di bidang ekonomi dan pembangunan.
"Pertumbuhan ekonomi Afganistan melambat hingga Agustus 2021, mencerminkan kepercayaan yang lemah di tengah situasi keamanan yang dengan cepat memburuk, dan kondisi kekeringan parah yang berdampak negatif pada produksi pertanian," kata Bank Dunia dalam laporannya baru-baru ini.
"Output diperkirakan telah berkontraksi tajam sejak pengambilalihan oleh Taliban akibat dampak gabungan dari penghentian mendadak pengeluaran donor dan belanja pemerintah, gangguan perdagangan, dan disfungsi sektor perbankan," tambah laporan itu.
Mengingat situasi Afganistan, Ajmal dan Sharifa mengatakan mereka mempertimbangkan untuk beremigrasi. "Saya tahu bahwa ribuan keluarga lain, termasuk keluarga saya, tengah mencari cara untuk keluar dari negara ini."
Kamela (bukan nama sebenarnya), ibu dari empat anak ini juga punya keinginan yang sama. "Kami tidak punya pilihan lain selain migrasi. Kami harus menjual barang-barang rumah tangga dengan separuh harga dan meninggalkan negara ini."
Bulan lalu, kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa mengatakan Afganistan menghadapi gangguan sistem ekonomi dan sosial yang berisiko berlanjut menjadi bencana kemanusiaan. "Afganistan sedang mengalami krisis kemanusiaan yang serius dan sistem sosial-ekonominya terancam runtuh, ini berbahaya bagi warga Afganistan, bagi keamanan regional dan internasional," tulis Josep Borrell dalam sebuah blog.
"Jika situasi ini berlanjut dan seiring mendekatnya musim dingin, risiko ini berubah menjadi bencana kemanusiaan," ujar Josep Borrell sambil memperingatkan bahwa keadaan ini dapat memicu migrasi massal ke negara-negara tetangga.
Perserikatan Bangsa-Bangsa dan badan-badan kemanusiaan lainnya juga telah memperingatkan bahwa ketidakstabilan lebih lanjut dan penderitaan di Afganistan dapat memicu krisis migrasi besar-besaran seperti yang terjadi pada tahun 2015 ketika ratusan ribu pencari suaka dari Suriah melakukan perjalanan ke Eropa.
(Susi Susanti)