"[Sebegitu mengerikan dan menakutkan] saya sampai pada kesimpulan bahwa saya akan dibunuh oleh orang-orang bersenjata atau suami saya di pesawat yang akan dibunuh," katanya melalui pengacara.
Pemeriksaan berlangsung selama lima menit sebelum mereka dikawal kembali masuk ke pesawat.
Beberapa perempuan melaporkan insiden ini ke polisi saat mendarat di Australia, yang menarik perhatian publik dan memicu kecaman dari sejumlah negara.
Perdana Menteri Qatar, Khalid bin Khalifa bin Abdulaziz Al Thani, pun langsung mengeluarkan pernyataan di Twitter.
"Kami menyesalkan perlakuan yang tak bisa diterima terhadap beberapa penumpang perempuan ... apa yang terjadi tidak mencerminkan hukum atau nilai-nilai Qatar,” cuitnya.
Qatar melakukan proses hukum yang berujung dengan vonis hukuman percobaan terhadap seorang pejabat bandara.