JAKARTA - Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto menyampaikan terdapat pelajaran yang diambil pascabencana yang terjadi di Tanah Air sepanjang tahun 2021. Ia menekankan perlunya mitigasi risiko lebih dini.
"Di awal tahun misalnya, gempa di Mamuju, Malang, Blitar, Jember, dan Flores memberikan pembelajaran untuk mitigasi risiko gempa lebih dini," kata Suharyanto dalam keterangan tertulis dikutip, Kamis (30/12/2021).
"Mitigasi risiko gempa hanya dapat dilakukan dengan penguatan bangunan, baik itu rumah warga, maupun fasilitas publik. Penguatan bangunan ini, khususnya rumah masyarakat harus mengedepankan cara yang praktis dengan biaya terjangkau," imbuhnya.
Selanjutnya, untuk bencana longsor di Sumedang dan siklon tropis di NTT, Kepala BNPB yang sekaligus menjabat sebagai Ketua Satuan Tugas Penanganan Covid-19 itu mengimbau kepada stakeholder dan masyarakat untuk tidak membangun pemukiman di lahan kritis.
Baca juga: Bencana Paling Banyak Terjadi di Jawa Sepanjang 2021, BNPB : Penanggulangan Harus Ditingkatkan
"Pembangunan kawasan harus mengacu kepada tata ruang yang berbasisi mitigasi bencana. Tata ruang kawasan yang berbasiskan mitigasi bencana ini yang harus kita sepakati dan laksanakan bersama kedepannya," ujarnya.
Baca juga: Kepala BNPB: Meski Jumlahnya Turun, tapi Dampak Bencana di 2021 Meningkat Signifikan
Lebih lanjut, Suharyanto mengatakan dari kejadian Awan Panas Guguran (APG) di Gunung Semeru, Lumajang, Jawa Timur pada awal Desember lalu, perlu adanya penguatan sistem peringatan dini kegunungapian terutama yang mendukung perintah evakuasi pada saat kontinjensi dan kedaruratan.
"Saya berharap dengan adanya pembelajaran dari kejadian bencana di tahun 2021 dapat mengurangi dampak yang ditimbulkan dari bencana ke depannya," tuturnya.
Sebelumnya, Suharyanto menyebut wilayah Jawa masih paling banyak mendominasi kejadian bencana alam. Sehingga diperlukan peningkatan tahap penanggulangan bencana.
"Kemudian daerah yang paling banyak bencana di dominasi di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur kemudian disusul oleh Aceh, Sulawesi Selatan, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Tengah. Daerah yang merah ini perlu peningkatan tahap penanggulangan bencana dari mulai mitigasi, edukasi dan penanganan darurat dan ini PR kita bersama," kata Suharyanto dalam Youtube Kemenko PMK, Rabu (29/12).
Suharyanto menyebut jumlah frekuensi bencana di Indonesia yang tercatat di penghujung tahun 2021 menurun dari tiga tahun terakhir. Adapun data jumlah bencana tahun 2018 sebanyak 3.397, tahun 2019 sebanyak 3.814, dan tahun 2020 sebanyak 4.649.
"Melihat dan jumlah frekuensi bencana saat ini Indonesia di penghujung tahun ini ada 3.058 bencana ini merupakan angka yang menurun dalam tiga tahun terakhir," tutupnya.
Baca juga: Bencana Paling Banyak Terjadi di Jawa Sepanjang 2021, BNPB : Penanggulangan Harus Ditingkatkan
(Fakhrizal Fakhri )