Nasib Para Pegawai LBM Eijkman Setelah Dilebur ke BRIN

Agregasi BBC Indonesia, Jurnalis
Kamis 06 Januari 2022 05:44 WIB
Lembaga Eijkman (Ist)
Share :

JAKARTA - Para honorer maupun asisten peneliti LBM Eijkman harus memenuhi sejumlah persyaratan guna ingin menjadi bagian Eijkman yang dilebur ke BRIN.

Melansir BBC Indonesia, Kamis (6/1/2022), untuk menjadi peneliti, BRIN mensyaratkan peneliti harus memiliki gelar S3. Sedangkan sebagian tenaga honorer di Eijkman belum mendapat kesempatan untuk itu meski BRIN menjanjikan bisa memberi beasiswa kepada mereka melalui skema riset.

Ahli Biologi Molekuler Ahmad Rusdan Utomo mengatakan BRIN masa peralihan yang terlalu singkat membuat sebagian tenaga honorer di LBM Eijkman tidak sempat menempuh persyaratan itu. Menurut dia, seharusnya memberi jangka waktu yang lebih panjang untuk bertransisi kinerja Eijkman tidak berdampak pada riset dan tugas-tugas yang mereka lakukan, khususnya terkait pandemi.

Ahmad menyayangkan kebijakan yang dianggap 'mengorbankan' 71 tenaga peneliti tersebut atas nama status kepegawaian.

Menurut dia, kontribusi nyata Eijkman selama pandemi telah menunjukkan bahwa mereka memiliki tim peneliti yang solid dengan kapasitas yang mumpuni, sehingga keutuhannya harus dijaga.

Situasi ini justru dianggap 'menimbulkan disrupsi' terhadap peneliti di Eijkman dalam melanjutkan tugas-tugas mereka.

Padahal Eijkman merupakan salah satu kontributor terbesar dalam melaksanakan whole genome sequencing untuk mendeteksi varian virus corona yang beredar di Indonesia, juga berperan meneliti efektivitas plasma konvalesen, hingga menghasilkan protein rekombinan yang berguna dalam pengembangan vaksin Covid-19.

Baca Juga : Dilebur ke BRIN, Tim Waspada Covid-19 Eijkman Pamit

"Apa yang dilakukan Eijkman itu adalah kinerja nyata dari tim peneliti yang sebetulnya, [Covid-19] itu bukan core utama penelitian mereka. Tapi karena Covid mereka tidak ragu menggunakan akses penelitian mereka untuk meneliti Covid," ujar Ahmad.

"Dari sisi semangat mereka itu luar biasa. Artinya, sudah saatnya dari apa yang terjadi saat ini supaya keutuhan tim Eijkman dipertahankan. Jangan sampai karena masalah kepegawaian tim itu dipecah," lanjut dia.

Sementara itu Kepala BRIN, Laksana Tri Handoko, membantah bahwa perubahan sistem itu tidak akan berdampak pada kinerja Eijkman dalam penanganan dan riset terkait Covid-19.

"Justru timnya Eijkman makin kuat. Tim untuk melakukan itu misalnya tim pengembanganan vaksin akan bergabung dengan tim dari LIPI. Kemudian surveilans genome sequencing juga sama karena selama ini yang melakukan kan tim Eijkman dan LIPI, jadi sama sekali tidak ada pengaruhnya," kata dia.

Menurut Handoko, perubahan ini justru akan 'memperkuat' Eijkman sebagai sebuah lembaga penelitian dengan anggaran riset yang lebih besar dengan peneliti yang memenuhi 'standar kualifikasi', serta infrastruktur yang lebih lengkap.

(Erha Aprili Ramadhoni)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya