PANDEMI Covid-19 yang melanda dunia sejak akhir 2019 sudah jelas sangat mempengaruhi perekonomian dunia. Ada beberapa negara yang menggelontorkan banyak dana untuk memerangi pandemi ini.
Berikut 3 negara yang paling banyak mengeluarkan anggaran demi melawan Covid-19:
1. Malta
Malta merupakan negara yang paling banyak mengeluarkan dana guna penanganan Covid-19. Melansir BBC, negara itu mengeluarkan dana hampir 25% dari jumlah GDP-nya untuk memerangi Covid-19. Melansir laman PwC Malta, pemerintah Malta memberikan semacam voucher kepada warganya seperti voucher hotel, restoran, dan akomodasi lain.
Pemerintah juga mengalokasikan dana untuk menyewa fasilitas kesehatan tambahan guna memastikan kualitas perawatan bagi masyarakatnya. Tidak hanya perawatan Covid-19, namun juga perawatan penyakit akut lainnya. Sementara itu, pendapatan negara dari pajak di Malta turun sebesar 4,9 miliar euro di tahun 2020, menjadi 4 miliar euro. Di tahun 2021, angkanya mengalami kenaikan menjadi 4,6 miliar euro.
2. Jepang
Negara selanjutnya yang juga mengeluarkan dana besar dalam penanganan Covid-19 adalah Jepang. Masih menurut BBC, Jepang menggelontorkan dana hingga 20% dari total GDP-nya. Disebutkan secara spesifik oleh Reuters, negara ini mengeluarkan uang hingga 940 miliar dolar AS untuk Covid-19.
Dana itu akan mulai dianggarkan pada April 2022 mendatang. Selain guna menangani Covid-19, anggaran ini juga ditujukan untuk memulihkan ekonomi akibat imbas dari pandemi, kesejahteraan masyarakat, dan pembayaran utang negara.
3. Amerika Serikat
Perekonomian AS cukup merosot akibat pandemi Covid-19. Meskipun demikian, AS juga cukup banyak menggelontorkan dana untuk penanganan Covid-19, yakni sekitar 11% dari total GDP. Mengutip laman USA Spending, pemerintah AS telah menganggarkan dana sekitar 4,6 triliun dolar AS per Desember 2021. Dana ini memang sangat difokuskan untuk lini kesehatan.
Pengeluaran untuk sektor kesehatan adalah hal yang paling terasa sepanjang 2020. Bahkan, pengeluaran tersebut terasa sangat cepat dan masif sejak tahun 2002. Karena banyaknya pengeluaran yang dimiliki AS, negara ini bahkan mengajukan pinjaman sebesar 3 triliun dolar AS pada kuartal kedua 2020. Angka ini jauh lebih besar dibandingkan dengan pinjaman saat krisis keuangan di tahun 2008.
(Angkasa Yudhistira)