JAKARTA - Hoegeng Iman Santoso atau Hoegeng lahir pada 14 Oktober 1921 di Pekalongan. Ia memiliki reputasi sebagai Kapolri dengan kejujurannya. Tak hanya jujur, Hoegeng memiliki komitmen untuk selalu sederhana, tegas, dan jujur. Komitmen itu ia terapkan tak hanya pada pekerjaannya tetapi juga pada keluarganya.
Ia menjadi Kapolri ke-5 pada masa Pemerintahan Orde Baru pada Pemerintahan Presiden Soeharto. Hoegeng juga mendapat julukan sebagai Polisi jujur oleh Mantan Presiden Abdurrahman Wahid, “Polisi jujur hanya ada tiga Polisi tidur, patung polisi, dan Jendral Hoegeng.”
BACA JUGA: Pensiun dari Kapolri, Hoegeng Jual Lukisannya untuk Biaya Hidup
Tak hanya sebagai Kapolri, ia sempat menjadi Mentri Iuran Negara dan Kepala Jawatan Imigrasi Indonesia. Ketegasannya ia buktikan dimana saat ia menjadi pejabat penting, ia tidak pernah menerima pemberian apapun terkait dengan jabatannya.
Di balik Hoegeng dengan komitmennya, ia juga memiliki hobi melukis. Dimana hobi melukisnya itu ia turunkan kepada anak sulungnya, Reni. Reni diketahui juga mengambil jurusan Seni Budaya Institut Pertanian Bogor (IPB). Bakat kesenian Hoegeng sudah ia salurkan sejak ia remaja. Tak hanya menulis ia juga sempat mengisi sandiwara radio, sandiwara tersebut adalah Saija dan Adinda dari novel Max Havelaar karya Multatuli atau Edwart Douwes Dekker bersama istrinya.
BACA JUGA: Hoegeng Tidak Pernah Makan di Restoran, Takut Ada yang Bayarin!
Selain itu pada masa remajanya ia sempat membuat band sekolah, dimana selanjutnya ia membentuk kelompok musik yang dinamakan The Hawaiian Seniors karena kelompok musik ini membawakan lagu-lagu dengan irama musik Hawaiian. Selain memainkan alat musik ukulele, ia juga turut berpartisipasi menjadi vokalis. Hoegeng adakalanya tampil bersama istrinya. Penampilan Hoegeng jika sedang mengisi acara selalu mengenakan pakaia bermotif bunga-bunga dan menggunakan untaian kalung bunga yang menjadikan penampilannya sangat khas pada waktu itu.