Buya Husein di hadapan jenazah Gus Dur, teringat kata-kata dalam sebuah buku tasawuf. “Ketika jiwa pergi dalam keadaan bersih, tanpa membawa serta bersamanya hasrat-hasrat rendah duniawi yang menciptakan ketergantungan, yang selama hidupnya selalu dihindari dan tak pernah dibiarkan menguasai diri; menjadi diri sendiri dan menempatkan perpisahan jiwa dari badan sebagai tujuan dan bahan permenungan, maka jiwa itu telah siap untuk memasuki wilayah kasat mata (Alam Al-Musyahadah) di mana para bijak-bestari tinggal,” demikian kalimat tasawuf yang ditulis Buya Husein.
Buya Husein memaknai jenazah yang ada di hadapannya itulah bersemayam jiwa yang telah matang. Hati Gus Dur telah menjadi hati orang-orang yang ditinggalkan dan dicintainya.
Gus Dur telah membagi cinta kepada mereka yang hatinya remuk-redam, tak berdaya dan tanpa gantungan. “Ia (Gus Dur) yang bicara begitu bebas, tanpa beban, polos, karena tak punya hasrat rendah apa pun dan tak tergantung pada siapa pun, kecuali kepada Tuhan. Ia yang tak pernah peduli dengan gelar-gelar kehormatan yang dianugerahkan dunia kepadanya,” kata Buya Husein.
Buya Husein juga memandang Gus Dur sebagai sosok yang pikirannya mampu menjangkau masa depan dan melampaui zaman. Namun, Gus Dur bisa tetap bertahan dengan kokoh menjalani tradisinya.
"Ia (Gus Dur) yang tak pernah gentar untuk melawan setiap tangan tirani dan korup. Ia yang tak mau kompromi terhadapnya dan tak peduli pada cibiran orang kepadanya,” kata Buya Husein.
(Arief Setyadi )