JAKARTA – KH. Abdurrahman Wahid atau akrab disapa Gus Dur adalah seorang cendekia Muslim, negarawan, dan ulama yang dekat dengan rakyat kecil. Kedekatan itu terihat dalam beberapa kesempatan yang kemudian dikisahkan kembali oleh khalayak.
Salah satu kisah menceritakan bagaimana Gus Dur marah-marah ketika gerobak tukang ketoprak langganannya diangkut petugas Satpol PP Pemerintah DKI Jakarta.
Dilansir dari nu.or.id, Gus Dur diceritakan merupakan langganan dari Pak Warjo, seorang tukang ketoprak yang berjualan di samping gedung PBNU sejak tahun 1980-an.
Setelah menjadi langganan Gus Dur, Pak Warjo juga mengenal keluarga sang ulama, Ibu Sinta Nuriyah dan putri Gus Dur, Yenny Wahid. Bahkan, menurut Pak Warjo, dia terkadang mendapat modal dari Ibu Sinta Nuriyah.
“Lama kelamaan, saya juga kenal dengan Bu Nuriyah dan anak-anaknya. Saya kenal Yenny. Kalau Yenny ke sini, biasanya dia ngasih uang. Kalau habis pulang, dan uang saya habis di kampung, saya minta modal sama Bu Nuriyah,” kenang Pak Warjo yang diceritakan nu.or.id.
Suatu ketika, gerobak ketoprak Pak Warjo digaruk oleh Satpol PP DKI Jakarta. Pak Warjo hanya bisa pasrah ketika gerobaknya diangkut, tetapi dia kemudian mendengar suara orang marah-marah di belakang, menghardik para petugas.
Suara itu ternyata berasal dari Gus Dur.
“Jalanan ini memang milik DKI, tapi ini halaman kami. Pedagang di sini adalah urusan rumah tangga kami. Dia yang ngasih makan kami,” kata Gus Dur.
Cucu dari pendiri NU KH. Hasyim Asy’ari itu ngotot mempertahankan gerobak ketoprak Pak Warjo dan menyuruh petugas Satpol PP pergi.
“Bilang sama atasan kamu! Jangan sekali-kali lagi ke sini,” kata Gus Dur.
Akhirnya gerobak ketoprak itu dikembalikan kepada Pak Warjo.
(Rahman Asmardika)