JAKARTA - Rektor Institut Teknologi Kalimantan (ITK), Budi Santosa Purwokartiko diduga telah melakukan rasis kepada salah satu mahasiswi berhijab. Pernyataan Rektor ITK itu pun telanjur viral di media sosial dan menuai kecaman di masyarakat.
Menanggapi hal itu, Menko Polhukam Mahfud MD menilai, pernyataan yang disampaikan oleh Budi tidaklah menunjukkan sikap yang bijaksana seorang akademisi.
"Memuji-muji mahasiswa/mahasiswi hebat hanya karena mereka tidak memakai kata-kata agamis, 'Insya Allah, qadarallah, syiar” sebagaimana ditulis oleh Rektor ITK itu juga tidak bijaksana," tulis Mahfud dalam akun Twitter-nya.
Menurutnya, tiga kata di atas yang disinggung oleh Budi merupakan sebuah bentuk kebaikan bagi seorang beriman kepada Penciptanya. Hal tersebut berlaku pula bagi pemeluk agama lain.
"Itu adalah kata-kata yang baik bagi orang beriman, sama dengan ucapan Puji Tuhan, Haleluya, Kersaning Allah, dan lain-lain," ujarnya.
Dia menjelaskan, pada periode tahun 1990-an banyak profesor-profesor yang tadinya tidak berjilbab menjadi berjilbab. Bahkan, mereka adalah Profesor di Universitas kenamaan Indonesia, seperti UI, ITB, UGM, dan IPB.
“Ibu Dirut Pertamina (Nicke Widyawati) dan Kepala Badan POM (Penny Kusumastuti Lukito) juga berjilbab. Mereka pandai-pandai tapi toleran, meramu keislaman dan keindonesiaan dalam nasionalisme yang ramah," kata Mahfud.
Menurut Mahfud, pakaian yang Islami itu adalah niat menutup aurat dan sopan. Kata Mahfud, pilihannya pun bisa beragam karena model pakaian adalah produk budaya.
"Tak melulu harus menggunakan cadar atau gamis. Maka itu menuduh orang pakai penutup kepala sepertj jilbab ala Indonesia, Melayu, Jawa, dan lain-lain sbg manusia gurun adalah salah besar," tutupnya.
(Awaludin)