KERTANEGARA merupakan raja terakhir Kerajaan Singasari. Sosoknya dikenal sebagai raja yang congkak dan tak mudah mendengarkan pendapat orang lain. Bahkan konon Raja Kertanagara juga kerap kali memecat pejabat yang tak sependapat dengannya.
Namun dibalik sosoknya yang keras dan terkesan egois, ia memiliki seorang kawan akrab sekaligus menjadi guru penasehatnya bernama Terenavindu. Konon sebagaimana Earl Drake mengisahkan pada bukunya "Gayatri Rajapatni", Terenavindu juga merupakan seorang resi Buddhis, yang paling terpelajar.
Sosoknya Terenavindu juga-lah yang menjadi guru paruh waktu bagi anak bungsunya Gayatri. Bersama Terenavindu Gayatri belajar topik-topik serius yang telah didalami sang ayah. Hal ini pula yang menuntunnya menjadi seorang raja adil dan bijaksana.
BACA JUGA:Perkawinan Raden Wijaya dengan 4 Putri Raja Terakhir Singasari Perkuat Wangsa Rajasa
Bahkan dikisahkan Kertanagara meminta pendapat Terenavindu mengenai strategi mengerahkan pasukan demi menuntaskan kebijakan Ekspedisi Pamalayu, yang berimbas pada kosongnya prajurit yang menjaga wilayah ibu kota Kerajaan Singasari.
Konon karena keinginan kuat Kertanagara inilah membuat istana Singasari tersisa dua divisi pengawal istana yang dipimpin oleh Pangeran Wijaya dan Pangeran Ardharaja. Hal ini membuat pertentangan dan perdebatan di internal pejabat istana sendiri.
BACA JUGA:Asal Usul Nama Ken Arok Pendiri Kerajaan Singasari
Dimintai pendapat oleh Kertanagara, Terenavindu mengemukakan tindakan sang raja Kertanagara memang masuk akal mengirim pasukan utamanya ke medan perang, demi menyergap musuh dari luar demi memenuhi misi Ekspedisi Pamalayu, daripada menungggu serangan Khubilai Khan di tanah Singasari.