Kepada polisi, HS dan LA mengaku telah 11 kali melakukan aksi serupa di beberapa tempat. Besi penutup gorong-gorong itu lantas dijual ke tukang rongsokan seharga Rp126 ribu.
"Uang itu lalu dipakai membeli obat penurun panas dan sisanya untuk makan," ungkap Sukadi.
HS sendiri sudah sekitar tiga bulan di proyek bangunan. "Sedangkan istrinya sebagai penjahit tidak lagi mendapat orderan sejak pandemi," imbuh Sukadi.
(Awaludin)