JAKARTA - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengatakan saat ini Indonesia masih berpotensi terjadi bencana hidrometeorologi basah seperti banjir, banjir bandang, tanah longsor, juga puting beliung.
Jika dilihat dari sebaran bencananya, kejadian bencana banjir banyak terjadi di wilayah Indonesia Tengah dan Timur. “Kalau kita melihat sebaran spasialnya, maka kejadian banjir paling dominan di Indonesia Tengah dan Timur,” kata Plt. Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari saat Konferensi Pers secara virtual, Senin (1/8/2022).
Selain itu, bencana hidrometeorologi kering yakni kebakaran hutan dan lahan juga berpotensi terjadi di Indonesia Tengah ke Barat. “Sedangkan di Indonesia Tengah ke Barat itu mulai dominan kebakaran hutan dan lahan,” kata Aam sapaan akrabnya.
Baca juga: BNPB Catat Terjadi 26 Kali Kejadian Bencana Selama Sepekan, Banjir Terbanyak
“Artinya mungkin nanti kita bisa bandingkan dengan prakiraan cuaca dari BMKG dari belahan Indonesia Tengah ke Barat, maka kita harus mewaspadai ini hidrometeorologi kering karena musim kering sudah mulai signifikan dan titik-titik api mulai terpantau lebih banyak,” paparnya.
“Tetapi dari belahan Indonesia Tengah ke Timur, ini kita masih akan berhadapan dengan hidrometeorologi basah,” tambah Aam.
Baca juga: Januari hingga Juli 2022, BNPB: 2.579.498 Jiwa Mengungsi dan 124 Tewas Akibat Bencana
Oleh karena itu, Aam mengimbau agar masyarakat, pemerintah daerah di Indonesia bagian Timur, Tengah dan ke Timur tetap waspada terhadap potensi kejadian bencana hidrometeorologi basah.
“Kita masih terus harus waspada mengamati prakiraan cuaca kalau terjadi hujan lebih dari 1 jam durasi panjang intensitas tinggi atau durasi intensitas tidak terlalu tinggi, tetapi durasi sangat panjang ini juga harus menjadi kewaspadaan kita,” imbaunya.
Baca juga: Kepala BNPB Tinjau Penanganan Bencana Banjir Bandang Parigi Moutong
(Fakhrizal Fakhri )